Tampilkan postingan dengan label Motivasi Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Hafalan Shalat Delisa


Ahad kemarin, 25 Desember 2011, bersama permaisuri & dua matahariku, Riyadh (6 thn) dan Fayyadh (4 thn) saya berkesempatan menonton film berjudul: Hafalan Shalat Delisa.


Film yang diadaptasi dari Novel best seller karya Tere Liye, Hafalan Shalat Delisa mengisahkan tentang Delisa (Chantiq Schagerl) seorang gadis cilik yang harus kehilangan Ibunya (Ummi Salamah, diperankan oleh Nirina Zubir), dan ketiga kakaknya yaitu Fatimah (Ghina Salsabila), Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra(Riska Tania Apriadi), pasca bencana tsunami yang melanda Aceh.


Sosok Delisa dikisahkan baru berusia 6 tahun. Duduk di kelas 1 Ibtidaiyah Negeri I Lhok Nga. Seorang gadis kecil yang manis, polos, dan menggemaskan. Delisa gemar bermain bola bersama teman laki-lakinya setiap sore di dekat pantai Lok Nga, sekitar 400 meter dari rumahnya. Delisa anak yang kritis. Ia sering kali bertanya tentang apapun yang tidak ia mengerti. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia bersama Ummi Salamah, Abi Usman, kak Fatimah, serta kedua kakak kembarnya, Aisyah dan Zahra. Abi Delisa bekerja di kapal tanker yang membawa minyak mentah untuk diangkut dari satu negara ke negara lainnya, akan pulang setiap 3 bulan sekali. Jadilah Ummi yang setiap hari menjaga keempat anaknya yang manis itu.



Ada satu tradisi dalam keluarga Usman, yakni anak yang telah hafal bacaan shalat akan diberikan hadiah kalung. Begitupun dengan Delisa yang berusaha keras belajar menghafal bacaan shalat. Delisa ingin memakai kalung seperti kakak-kakaknya. Delisa telah memilih sendiri kalung hadiahnya yang ia beli bersama Ummi di toko Koh Acan. Sebuah kalung yang indah dengan liontin berbentuk “D”. “D” untuk Delisa. Sayangnya kalung itu belum boleh dipakai oleh Delisa sampai Delisa hafal seluruh bacaan shalatnya. 


Sepanjang hari dia terus berusaha menghafalkan bacaan shalat, meski kadang bacaannya terbalik seperti bacaan ruku’ yang terbalik dengan sujud ataupun dia lupa sama sekali dengan kelanjutan bacaan iftitahnya serta sering mendapat ejekan dari kak Aisyah namun itu semua tidak membuatnya gentar untuk menjadikan shalatnya sempurna dengan bacaan shalat. Apalagi Abi berjanji akan membelikannya sepeda.


Pada 26 Desember 2004, Delisa bersiap mengikuti ujian hafalan shalat. Namun Lhok Nga bergetar ketika gempa melanda kota di bibir pantai Aceh itu. Delisa ketakutan, tangannya mendekap Ummi. Setelah suasana kembali normal, mereka memutuskan untuk bergegas ke tempat ujian.

Gadis kecil itu memulai bacaan shalatnya. Dia teringat nasehat sang ustad, Ustad Rahman (Fathir Muchtar) untuk tetap khusyuk walau apapun yang terjadi. Laut pecah, ombak menggeliat, tsunami menggulung pagi itu. Namun Delisa seolah larut dalam kekhusyukannya. Sementara tsunami ikut menggulung ketiga saudara perempuannya dan ribuan warga Aceh.

Tsunami Aceh mengakibatkan kesedihan yang teramat dalam, seluruh dunia ikut terguncang mendengar kabar ini, sejumlah relawan asing pun diterjunkan. Ayah Delisa yang sehari-harinya bekerja di kapal tanker pun segera pulang ke Lhok Nga untuk mencari anak istrinya.

Delisa berhasil selamat dari terjangan tsunami yang sungguh dahsyat tersebut, Delisa berhasil ditemukan dan diselamatkan oleh tentara Amerika yakni Smith (Mike Lewis). Di rumah sakit Delisa harus dioperasi dan diamputasi satu kakinya karena terluka dan sudah membusuk. Dirumah sakit pula ia dirawat oleh suster yang sangat menyayanginya yakni suster sophie (Loide Christina Teixeira), hingga akhirnya ayahnya Abi Usman menemukannya.


Delisa yang banyak kehilangan hal yang berharga di hidupnya banyak mengajarkan pada orang-orang disekitarnya yang sama-sama terkena bencana menjadi kuat untuk menghadapi cobaan, dan ikhlas menerima cobaan yang tentunya datang dari Tuhan, tidak terkecuali tentara Amerika Smith dan suster Sophie yang menjadi lebih mengerti arti hidup karena melihat Delisa.


Delisa akhirnya berhasil menuntaskan hafalan shalatnya tapi tidak karena hadiah tapi karena Allah, Delisa ingin benar-ingin bisa hafal bacaan shalatnya hingga bisa shalat dengan khusyuk dan mendoakan Umi Salma, kak Fatima, kak Zahra, dan kak Aisyah.

Setelah ia berhasil lulus bacaan shalatnya Delisa bertemu dengan Umi Salma yang sudah meninggal namun tangannya mengenggam kalung Delisa (D untuk Delisa).


Film ini sangat edukatif. Beberapa kisah yang masih menggelayut di benak saya pasca menonton diantaranya adalah:


1.      Delissa yang tumbuh menjadi anak kecil tidak pelit dan selalu membagi setiap mendapatkan rezeki. Ia selalu berbagi dengan disekitarnya. Sebuah pelajaran yang luar bisa akan arti kepedulian...


2.      Celotehan Aisha, ”Makanya kalau shalat itu jangan cuma dihafal bacaanya, tapi juga artinya..” Dari kalimat ini saya merasa termasuk dibagian yang dikomentari Aisha, terkadang hanya hafal bacaanya tapi lupa artinya.


3.      Lakukan sesuatu dengan ikhlas, jangan mengharapkan hadiah, serahkan segala sesuatunya hanya pada Allah. Pada point ini, lagi-lagi saya merasa termasuk yang disentil: Ikhlas sangat mudah di ucapkan tapi sulit untuk diamalkan. 


Singkat cerita, yuuuuuk.... kita tonton film “Hafalan Shalat Delisa”, kita dukung para sineas & produser film Indonesia untuk sering-sering bikin film bermutu sekualitas film Hafalan Shalat Delisa dengan cara menontonnya. Agar mereka tidak bangkrut dan tidak kapok memproduksi film-film bagus yang mendidik. Selamat menonton.


Hafalan Shalat Delisa


Ahad kemarin, 25 Desember 2011, bersama permaisuri & dua matahariku, Riyadh (6 thn) dan Fayyadh (4 thn) saya berkesempatan menonton film berjudul: Hafalan Shalat Delisa.


Film yang diadaptasi dari Novel best seller karya Tere Liye, Hafalan Shalat Delisa mengisahkan tentang Delisa (Chantiq Schagerl) seorang gadis cilik yang harus kehilangan Ibunya (Ummi Salamah, diperankan oleh Nirina Zubir), dan ketiga kakaknya yaitu Fatimah (Ghina Salsabila), Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra(Riska Tania Apriadi), pasca bencana tsunami yang melanda Aceh.


Sosok Delisa dikisahkan baru berusia 6 tahun. Duduk di kelas 1 Ibtidaiyah Negeri I Lhok Nga. Seorang gadis kecil yang manis, polos, dan menggemaskan. Delisa gemar bermain bola bersama teman laki-lakinya setiap sore di dekat pantai Lok Nga, sekitar 400 meter dari rumahnya. Delisa anak yang kritis. Ia sering kali bertanya tentang apapun yang tidak ia mengerti. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia bersama Ummi Salamah, Abi Usman, kak Fatimah, serta kedua kakak kembarnya, Aisyah dan Zahra. Abi Delisa bekerja di kapal tanker yang membawa minyak mentah untuk diangkut dari satu negara ke negara lainnya, akan pulang setiap 3 bulan sekali. Jadilah Ummi yang setiap hari menjaga keempat anaknya yang manis itu.

Motivasi - Pemenang dalam diri

Sore hari di tengah telaga, ada dua orang yang sedang memancing. Mereka adalah ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka disana. Dengan perahu kecil, mereka sibuk mengatur pancing dan umpan.  Air telaga bergoyang perlahan dan membentuk riak-riak kecil di air. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.
“Ayah.”
“Hmm..ya..” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.  “Tadi malam ini,aku bermimpi aneh.  Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang sedang berkelahi. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk  mencakar dan menggeram, saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.” ucap sang anak.

Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu, mulai melanjutkan cerita, “singa yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku.”
Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir haluan.”Tapi, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun kotor, dan bulu yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.”


“Aku bingung, maksud dari mimpi ini apa?. Lalu, singa yang mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka sama-sama kuat?”
Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda di depannya. Sambil tersenyum, ayah berkata, “pemenangnya adalah, yang paling sering kamu beri makan.”
Ayah kembali tersenyum, dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan kuat, di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.
=========
Sahabat Resensi,  setiap diri kita memiliki “singa” saling bertolak belakang. Masing-masing ingin menjadi pemenang, dengan menjatuhkan salah satunya. Singa-singa itu adalah gambaran dari sifat yang kita miliki. Kebaikan dan keburukan. Dua sifat ini sama-sama memiliki peluang untuk menjadi pemenang dan kita pun dapat mengambil sikap untuk memenangkan salah satunya. Semua tergantung dengan singa mana yang sering kita beri makan.
Salah satu santapan dari singa yang buruk adalah sinetron. Sinetron memiliki naskah yang  dangkal, emosional berlebihan, pendidik yang baik dalam hal kekerasan, kelicikan, alur cerita yang dipanjang-panjangkan, yang makin hari makin tidak berkualitas. Sinetron yang baik bisa dihitung dengan jari.
Belum lagi, kita juga disuguhkan oleh tayangan gosip, yang membuka-buka aib orang lain. Juga tayangan yang mempertontonkan keburukan dan kekerasan.
Ingat, keburukan yang koar-koarkan akan menghasilkan keburukan yang serupa.
Sahabat,
“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Ilaah (sembahan) manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”
Al Qur’an Surat An-Nas.
Setiap dari kita merindukan tayangan yang berkualitas, yang menengok pribadi-pribadi yang tangguh dalam berjuang tuk mencapai prestasi. Tayangan yang santun, tayangan yang mengajak untuk  lebih dekat dengan Tuhannya.
Apa yang kita baca dan apa yang kita lihat, adalah makanan bagi pikiran kita. Apa yang terpikirkan, itulah yang akan tersikap.

Motivasi - Pemenang dalam diri

Sore hari di tengah telaga, ada dua orang yang sedang memancing. Mereka adalah ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka disana. Dengan perahu kecil, mereka sibuk mengatur pancing dan umpan.  Air telaga bergoyang perlahan dan membentuk riak-riak kecil di air. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.
“Ayah.”
“Hmm..ya..” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.  “Tadi malam ini,aku bermimpi aneh.  Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang sedang berkelahi. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk  mencakar dan menggeram, saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.” ucap sang anak.

Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu, mulai melanjutkan cerita, “singa yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku.”
Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir haluan.”Tapi, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun kotor, dan bulu yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.”

To The Point Dalam Mengutarakan Pendapat

To The Point Dalam Mengutarakan Pendapat

Betapa menyebalkan berhadapan dengan orang yang bicara berputar-putar atau tidak langsung pada point yang dimaksud. Apakah Anda pernah menemui orang dengan tipe seperti itu, atau lebih parah lagi, apakah Anda termasuk orang yang memiliki tipe seperti itu?

Hati-hati lho, sifat yang satu ini bisa membuat orang menjauh dari Anda, dan dapat menghambat karir dan pekerjaan. Untuk menghindari kecenderungan ini, simak kiat-kiat berikut.

1. Mengulang hanya kalau dibutuhkan
Jangan mengulang-ulang komentar atau pendapat yang Anda sampaikan kecuali bila lawan bicara tidak mendengar atau menunjukkan gelagat tidak mengerti. Setelah mengulang, lanjutkan pembicaraan.

2. Jangan utarakan pendapat yang telah diutarakan sebelumnya
Ungkapkan ide-ide atau pemikiran baru dalam diskusi dan jangan mengulang apa yang telah disampaikan oleh orang lain. Rasanya tidak ada orang yang ingin mendengarkan hal yang sama diulang-ulang kembali.

3. Hindari kebiasaan membumbui/menambahkan kata-kata
Lontarkan komentar/pendapat dengan kalimat sesederhana mungkin namun tepat dalam mengekspresikan maksud. Dalam kursus menulis, kita diajarkan untuk meng-edit kata-kata yang ingin ditulis supaya lebih sigkat dan mudah dimengerti. Tidak ada salahnya bila Anda menerapkan konsep yang sama dalam percakapan/komunikasi verbal.

4. Ritme bicara
Cepat-lambatnya seseorang berbicara mempengaruhi apakah orang lain dapat mengerti atau tidak apa yang hendak disampaikan. Kalau berbicara terlalu cepat, bisa-bisa apa yang hendak Anda sampaikan malah tidak jelas. Sebaliknya, hindari berbicara dengan ritme yang terlalu pelan/lambat, sehingga lawan bicara mampu menyela pembicaraan dengan mengutarakan apa yang ingin Anda sampaikan.

5. Hindari lelucon
Jangan berusaha membuat lelucon-lelucon yang mungkin ditujukan untuk membuat rekan tersenyum namun malah berakibat sebaliknya. Meski Anda mungkin berpikir diri Anda adalah komedian terkenal yang mampu mengocok perut orang lain, tapi jangan-jangan lawan bicara malah berpikir bahwa Anda menghabiskan waktunya dengan melontarkan lelucon-lelucon yang sama sekali tidak lucu. Hal ini sangat fatal terutama dalam meeting.

6. Diam kalau gugup
Hindari kata-kata seperti "uh," "yah, begitulah," "um," dan "eh," yang biasanya digunakan saat kita gugup atau kehabisan kata-kata. Lebih baik diam saat Anda tidak tahu apa yang ingin dikatakan daripada menggunakan kata-kata yang malah membuat orang mempertenyakan kapasitas

7. Bicarakan topik yang dimengerti oleh semuanya
Jangan mendiskusikan hal-hal yang tidak relevan (dalam hal ini hal-hal yang bersifat pribadi) yang mungkin hanya dimengerti oleh Anda berdua namun tidak dimengerti oleh rekan-rekan lain yang ada disitu. Bila Anda ingin membicarakan hal yang sifatnya pribadi, lakukan nanti.

8. Dahulukan kepentingan tim
Dalam diskusi, ajukan pertanyaan yang relevan dengan keberhasilan/kemajuan tim, bukannya tentang prestasi diri sendiri. Seandainya mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan diri Anda (misalnya performa di tempat kerja), sampaikan setelah rapat selesai.

Selamat mempraktekkan ...!!!

To The Point Dalam Mengutarakan Pendapat

To The Point Dalam Mengutarakan Pendapat

Betapa menyebalkan berhadapan dengan orang yang bicara berputar-putar atau tidak langsung pada point yang dimaksud. Apakah Anda pernah menemui orang dengan tipe seperti itu, atau lebih parah lagi, apakah Anda termasuk orang yang memiliki tipe seperti itu?

Hati-hati lho, sifat yang satu ini bisa membuat orang menjauh dari Anda, dan dapat menghambat karir dan pekerjaan. Untuk menghindari kecenderungan ini, simak kiat-kiat berikut.

1. Mengulang hanya kalau dibutuhkan
Jangan mengulang-ulang komentar atau pendapat yang Anda sampaikan kecuali bila lawan bicara tidak mendengar atau menunjukkan gelagat tidak mengerti. Setelah mengulang, lanjutkan pembicaraan.

2. Jangan utarakan pendapat yang telah diutarakan sebelumnya
Ungkapkan ide-ide atau pemikiran baru dalam diskusi dan jangan mengulang apa yang telah disampaikan oleh orang lain. Rasanya tidak ada orang yang ingin mendengarkan hal yang sama diulang-ulang kembali.

3. Hindari kebiasaan membumbui/menambahkan kata-kata
Lontarkan komentar/pendapat dengan kalimat sesederhana mungkin namun tepat dalam mengekspresikan maksud. Dalam kursus menulis, kita diajarkan untuk meng-edit kata-kata yang ingin ditulis supaya lebih sigkat dan mudah dimengerti. Tidak ada salahnya bila Anda menerapkan konsep yang sama dalam percakapan/komunikasi verbal.

4. Ritme bicara
Cepat-lambatnya seseorang berbicara mempengaruhi apakah orang lain dapat mengerti atau tidak apa yang hendak disampaikan. Kalau berbicara terlalu cepat, bisa-bisa apa yang hendak Anda sampaikan malah tidak jelas. Sebaliknya, hindari berbicara dengan ritme yang terlalu pelan/lambat, sehingga lawan bicara mampu menyela pembicaraan dengan mengutarakan apa yang ingin Anda sampaikan.

5. Hindari lelucon
Jangan berusaha membuat lelucon-lelucon yang mungkin ditujukan untuk membuat rekan tersenyum namun malah berakibat sebaliknya. Meski Anda mungkin berpikir diri Anda adalah komedian terkenal yang mampu mengocok perut orang lain, tapi jangan-jangan lawan bicara malah berpikir bahwa Anda menghabiskan waktunya dengan melontarkan lelucon-lelucon yang sama sekali tidak lucu. Hal ini sangat fatal terutama dalam meeting.

6. Diam kalau gugup
Hindari kata-kata seperti "uh," "yah, begitulah," "um," dan "eh," yang biasanya digunakan saat kita gugup atau kehabisan kata-kata. Lebih baik diam saat Anda tidak tahu apa yang ingin dikatakan daripada menggunakan kata-kata yang malah membuat orang mempertenyakan kapasitas

7. Bicarakan topik yang dimengerti oleh semuanya
Jangan mendiskusikan hal-hal yang tidak relevan (dalam hal ini hal-hal yang bersifat pribadi) yang mungkin hanya dimengerti oleh Anda berdua namun tidak dimengerti oleh rekan-rekan lain yang ada disitu. Bila Anda ingin membicarakan hal yang sifatnya pribadi, lakukan nanti.

8. Dahulukan kepentingan tim
Dalam diskusi, ajukan pertanyaan yang relevan dengan keberhasilan/kemajuan tim, bukannya tentang prestasi diri sendiri. Seandainya mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan diri Anda (misalnya performa di tempat kerja), sampaikan setelah rapat selesai.

Selamat mempraktekkan ...!!!

back to top