UGD Radiologi ( Unit Gawat Darurat Radiologi )



T
rauma Radiologi adalah suatu jenis pemeriksaan radiologi yang mana ditujukan bagi seorang radiografer untuk dapat membuat gambaran sebaik dan sejelas mungkin dari pasien – pasien trauma yang kebanyakan tidak kooperatif dalam menjalankan pemeriksaan rontgen. Trauma Radiologi yang biasa dijumpai pada bagian Instalasi Gawat Darurat sebuah rumah sakit dapat menjadi sebuah pilihan lingkungan pekerjaan yang menarik dan menantang bagi seorang radiografer. Namun ,tidak dapat dipungkiri juga kasus – kasus trauma radiologi pun dapat menjadi sebuah pekerjaan radiografi yang menakutkan atau bahkan membuat pusing kepala. Perbedaan teknik pemeriksaan yang harus dilakukan terhadap  pasien yang bukan kasus trauma dengan pasien yang mengalami kasus trauma amat bergantung pada persiapan seorang radiografer dalam menangani situasi tersebut. Tanggung jawab dalam penatalaksanaan pemeriksaan kasus trauma radiologi ini menjadi sesuatu yang tak dapat disepelekan oleh seorang radiografer.
Kasus trauma dapat terjadi pada semua rentang usia. Trauma dapat diartikan sebagai sebuah kejadian tiba – tiba ,yang tak terduga dan terjadi secara cepat. Sumber kasus trauma di Amerika  ,National Trauma DataBase menyebutkan bahwa sekitar 1.1 juta kasus trauma tercatat sepanjang  periode tahun 2004. Dengan rentang usia pasien antara 0 tahun sampai 85 tahun .Dengan catatan kasus paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalulintas. Pasien- pasien yang sering ditemukan sudah dalam kondisi yang tidak sadarkan diri dan tentunya memerlukan penanganan penuh dari seorang tenaga medis yang dalam hal ini adalah kita sebagai seorang radiografer. 

Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE ) 


Reaksi: 

Kronologis 2


KRONOLOGIS 2 
  
( Harus senang apa sediih yaah ?? )


Pertemuan ke-2 “Café Radiologi” Team di Masjid Assyifa ( Minggu, 15 Agustus 2010 )

            Pertemuan kedua Kami, setelah pertemuan pertama dalam menentukan nama untuk blogg Kami ( Café-Radiologi ) . Sekitar 2 hari yang lalu Kami merancanakan untuk melakukan pertemuan kembali untuk mereview blogg Kami yang sudah jalan 1 minggu . Akhirnya Kami sepakat untuk bertemu hari Minggu di Rscm ( tempat pertemuan Kami yang pertama ) . Kami sudah sepakat untuk berkumpul di Rscm jam 13.00 atau setelah solad dzuhur . Padahal sebelumnya Kami lagi kebingungan soal laptop dan modem untuk d bawa ke pertemuan karena modem Saya yang kuotanya sudah habis, hehhee . ( Jadi tidak enak hati !!! )
            Dan pada hari-H, Saya mendapat fakta bahwa Herman dan Hendra akan datang telat dari waktu yang di janjikan karena mereka ada urusan keagamaan di kampus . Setelah  di pikir-pikir lebih baik saya juga datang telat karena mereka pasti akan telat dari saya . Sampai sekitar pukul 13.30, Samuel sms saya yang menyuruh untuk secepatnya datang ke Rscm ( saya pikir dia sudah nonggol di sana ) jadi saya harus segera cepat-cepat ke sana . Dan saya mendapat sms dari boss Harry untuk ngumpul dulu di Masjid Assyifa .

Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Teknik Pemeriksaan Kontras "Colon In Loop"


A.    Pengertian
Pemeriksaan radiografi dari usus besar ( colon ) dengan menggunakan bahan kontras yang dimasukkan per anal. Pemeriksaan ini termasuk barium enema.dan memerlukan persiapan pasien.

B.     Tujuan pemeriksaan
Untuk menggambarkan usus besar yang berisi kontras media,sehingga dapat memperlihatkan anatomi dan kelainan-kelainan yang terjadi baik pada mucosanya maupun yang terdapat pada lumen khusus.

C.      Anatomi Fisiologi
Ø  Colon merupakan bagian paling distal dari tractus digestivus.
Ø  Panjangnya kira-kira 1,5 – 2 m.
Ø  Diameter sekitar 6,5 cm pada daerah caecum.
Ø  Terbagi atas :
-          Colon Ascendens
-          Colon Transversum
-          Colon Descendens
-          Colon Sigmoid
Ø  Terdapat 3 flexura:
-          Flexura Hepatica : Di bawah hati , peralihan dari colon ascendens ke colon transversum.
-          Flexura Linealis : Di bawah pancreas , peralihan dari colon transversum ke colon descendens.
-          Flexura Sigmoidea : Peralihan dari colon descendens ke colon sigmoid.
Ø  Terdapat diverticulum pada caecum yang disebut appendiks. 




D.     Fungsi colon
Ø  Menyerap Air, Garam dan Glukosa selama proses pencernaan
Ø  Sekresi musin oleh kelenjar di dalam lapisan dalam.
Ø  Tempat dihasilkan vitamin K, dan Vitamin H (Biotin) sebagai hasil simbiosis dengan bakteri usus, misalnya : E.Coli.
Ø  Mendorong sisa makanan hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh (Defekasi).

Reaksi: 

MENGENAL PENYAKIT TUBERKULOSIS ( TBC )


MENGENAL PENYAKIT TUBERKULOSIS ( TBC )


Hampir dapat dipastikan, pemeriksaan yang paling sering dilakukan oleh Radiografer adalah rontgen thorax. Dan penyakit yang mempersyarakan secara ketet untuk foto thorax adalah TBC (tuberculisis). Karenanya menjadi tidak 'loetjoe' kalau kita-kita ---para radiografer---masih sangat gelap tentang penyakit yang satu ini. Untuk itu, yuuk... kita simak tulisan berikut....


Apa itu TBC ?


TBC adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobakterium Tuberkulosis.
TBC bisa menyerang semua bagian, tetapi yang paling sering terkena adalah organ paru – paru.
Indonesia merupakan negara ke -3 terbesar didunia setelah RRC dan India dalam hal penderita TBC.

Bagaimana gejala – gejala TBC ?

Batuk berdahak lebih dari 3 minggu.
Batuk darah
Rasa sakit didada
Nafsu makan berkurang
Berkurangnya berat badan
Demam lebih dari 1 bulan
Berkeringat dimalam hari meskipun tidak melakukan kegiatan.

Baca selanjutnya ( Klik Read More )


Reaksi: 

KODE ETIK RADIOGRAFER


KODE ETIK RADIOGRAFER


Kemanggisan - Slipi, Penghujung tahun 1999

Ketika itu hari pertama aku kerja di sebuah Klinik di bilangan kemanggisan. Siang yang terik, membuat tubuhku basah kuyup dibanjiri keringat. Di ruang tunggu (dihalaman klinik) ratusan wanita bergerombol membentuk kelompok-kelompok yang terdiri atas lima hingga sepuluhan. Malamnya aku sudah ketemu dengan Cicih (apa Enci ??!) panggilan akrab si pemilik klinik. Disampaikan bahwa siang ini akan ada ratusan calon TKi yang hendak chek-up.

Aku langsung ketemu dengan assisten enci (lebih tepatnya SECURITY Klinik), lalu diantarnya aku ke lantai dua (tepatnya di ruang radiologi berada). Subhanallah.... ternyata diatas juga sudah ada pasien dan tidak kalah banyaknya dengan yang di bawah.

Aku dikenalkan dengan sesorang yang usianya sudah lebih dari paruh baya (kira-kira 60 tahu lewat) sebut saja Pak Joko (nama samaran). Beliau sudah lebih 13 tahun mengabdi di klinik tersebut ---setidaknya, demikian pengakuan dirinya---- dan mulai akhir tahun ini (1999) berencana akan istirahat tuk menikmati masa pensiunnya. o,ya Pak Joko dines selalu pagi hari, karena sorenya musti kerja di sebuah rumah sakit negeri bergengsi di Jakarta sebagai Petugas dark Room.

Menariknya, selama ini dengan pasien yang jumlahnya beratus0-ratus tersebut, Ia kerjakan dengan seorang diri dengan menggunakan alat cuci konvensional eh, manual. Luar biasa.

Usut punya usut, ternyata dalam melayani pasien, Pak Joko langsung sekali memanggil pasien ---untuk masuk ke ruang radiologi--- sejumlah lima atau tujuh orang. Ruang radiologi yang ukurannya hanya kira-kira tiga x empat meter tersebut praktis sumpek.

Betapa tidak, 5-7 wanita langsung diminta masuk dan "maaf" langsung disuruh lepas baju atas (keseluruhannya dengan tanpa sisa) secara bersamaan tanpa ada pembatas / penutup / hizab/ baju pasien 'mini' sekalipun.

Pasca diinstruksikan pak Joko, wanita-wanita tersebut pada mulannya ragu-ragu, malu-malu, lalu akhirnya TERPAKSA mau.

Jangankan wanita tersebut, akupun dibuatnya risih.

Rekan-rekan sejawat Radiografer, bertolak pada pengalaman tersebut sebagai bahan pencerahan berikut saya cuplikkan materi KODE ETIK RADIOGRAFER yang saya comot dari konsep STANDAR PROFESI RADIOGRAFER di bab VI.

Selamat ber-INSTROPEKSI, semoga bermanfaat.

Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )


Reaksi: 

EVALUASI DAN PENGEMBANGAN MUTU UNIT RADIOLOGI


EVALUASI DAN PENGEMBANGAN MUTU UNIT RADIOLOGI

Prosedur evaluasi dibagi menjadi 2 (dua) metode, yaitu :
1.Metode evaluasi pertemuan
2.Metode evaluasi personal

Dari 2 (dua) metode tersebut dapat diambil kesimpulan akhir yang merupakan pedoman peningkatan efektifitas pelayanan dan cara bekerja di Unit Radiologi.

1. Evaluasi Pertemuan
Evaluasi pertemuan dibagi dalam 2 (dua) tahap, yaitu :

A. Tahap Evaluasi pertemuan bulanan
Dihadiri oleh radiografer dan tenaga adminstrasi
Dalam pertemuan ini dibahas :
• Kesulitan dalam pelaksanaan pelayanan :
• Kelengkapan peralatan utama
• Kelengkapan sarana penunjang di radiologi
• Kebutuhan SDM
• Jumlah kunjungan
• Metode pemeriksaan
• Kerusakan alat
• dll

B. Tahap Evaluasi pertemuan tahunan
Dihadiri oleh seluruh karyawan radiologi , yang dibahas adalah mengenai :
• Evaluasi dan menindak lanjuti dari hasil pertemuan bulanan
• Menarik kesimpulan dan mengambil tindakan
• Dibuat rumusan kerja baku dalam pelaksanaan pelayanan radiologi


2. Metode Evaluasi Pengendalian Mutu Personal
• Setiap anggota radiologi diberikan daftar penilaian pelaksanaan pekerja (DP3).
• Setiap tahun dievaluasi oleh atasan langsung untuk diberikan penilaian

Reaksi: 

STAF DAN PIMPINAN UNIT RADIOLOGI


STAF DAN PIMPINAN UNIT RADIOLOGI

1. Ka. Unit Radiologi


a. Persyaratan Jabatan :
1.Dokter Spesialis Radiologi
2.Berpengalaman Kerja Minimal 4 tahun.
3.Memiliki kemampuan memimpin.
4.Berakhlak karimah.
5.Tegas, Disiplin, teliti, peka dan peduli.

b. Kedudukan Dalam Berorganisasi :
A. Atasan Langsung : Ka.Bid. Penunjang Medik.
B. Atasan Tidak Langsung : Wadir Medis.
C.Bawahan Langsung : Koordinator Kelompok .

c. Hubungan Kerja.
- Dengan Koordinator Kelompok Radiologi.
- Dengan Koordinator Kelompok dan Pelaksanaan di unit kerja Radiologi.

2. Koordinator Kelompok Radiologi

a. Kriteria
1.Pendidikan D III ( radiologi + pengalamannya 5 tahun )
2.Berakhlak karimah
3.Tegas, disiplin, teliti, peka dan peduli
4.Bisa mengoperasikan Komputer

b. Kedudukan Dalam Berorganisasi ( Bagian Struktur )
A. Atasan Langsung : Ka.Unit Radiologi
B. Atasan Tidak Lansung : Ka.Intalasi.Penungjang Medik
C. Bawahan Langsung : Pelaksana Rontgen
Pelaksana Administrasi

Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

KESELAMATAN KERJA RADIOLOGI




Radiasi yang digunakan di Radiologi di samping bermanfaat untuk membantu menegakkan diagnosa, juga dapat menimbulkan bahaya bagi pekerja radiasi dan masyarakat umum yang berada disekitar sumber radiasi tersebut. Besarnya bahaya radiasi ini ditentukan oleh besarnya radiasi, jarak dari sumber radiasi, dan ada tidaknya pelindung radiasi.

Upaya untuk melindungi pekerja radiasi serta masyarakat umum dari ancaman bahaya radiasi dapat dilakukan dengan cara :


1. Mendesain ruangan radiasi sedemikian rupa sehingga paparan radiasi tidak melebihi batas-batas yang dianggap aman.
2. Melengkapi setiap ruangan radiasi dengan perlengkapan proteksi radiasi yang tepat dalam jumlah yang cukup.
3. Melengkapi setiap pekerja radiasi dan pekerja lainnya yang karena bidang pekerjaannya harus berada di sekitar medan radiasi dengan alat monitor radiasi.
4. Memakai pesawat radiasi yang memenuhi persyaratan keamanan radiasi.
5. Membuat dan melaksankan prosedur bekerja dengan radiasi yang baik dan aman.



1. Desain dan paparan di ruangan radiasi
a. Ukuran Ruangan Radiasi
· Ukuran minimal ruangan radiasi sinar-x adalah panjang 4 meter, lebar 3 meter, tinggi 2,8 meter.
· Ukuran tersebut tidak termasuk ruang operator dan kamar ganti pasien.

b. Tebal Dinding
· Tebal dinding suatu ruangan radiasi sinar-x sedemikian rupa sehingga penyerapan radiasinya setara dengan penyerapan radiasi dari timbal setebal 2 mm.
· Tebal dinding yang terbuat dari beton dengan rapat jenis 2,35 gr/cc adalah 15 cm.
· Tebal dinding yang terbuat dari bata dengan plester adalah 25 cm.

c. Pintu dan Jendela
· Pintu serta lobang-lobang yang ada di dinding (misal lobang stop kontak, dll) harus diberi penahan-penahan radiasi yang setara dengan 2 mm timbal.
· Di depan pintu ruangan radiasi harus ada lampu merah yang menyala ketika meja kontrol pesawat dihidupkan.


 

· Tujuannya adalah :
ã Untuk membedakan ruangan yang mempunyai paparan bahaya radiasi dengan ruangan yang tidak mempunyai paparan bahaya radiasi.
ã Sebagai indikator peringatan bagi orang lain selain petugas medis untuk tidak memasuki ruangan karena ada bahaya radiasi di dalam ruangan tersebut.
ã Sebagai indikator bahwa di dalam ruangan tersebut ada pesawat rontgen sedang aktif.
ã Diharapkan ruangan pemeriksaan rontgen selalu tertutup rapat untuk mencegah bahaya paparan radiasi terhadap orang lain di sekitar ruangan pemeriksaan rontgen.

· Jendela di ruangan radiasi letaknya minimal 2 meter dari lantai luar. Bila ada jendela yang letaknya kurang dari 2 meter harus diberi penahan radiasi yang setara dengan 2 mm timbal dan jendela tersebut harus ditutup ketika penyinaran sedang berlangsung.
· Jendela pengamat di ruang operator harus diberi kaca penahan radiasi minimal setara dengan 2 mm timbal.

d. Paparan Radiasi
· Besarnya paparan radiasi yang masih dianggap aman di ruangan radiasi dan daerah sekitarnya tergantung kepada pengguna ruangan tersebut.
· Untuk ruangan yang digunakan oleh pekerja radiasi besarnya paparan 100 mR/minggu.
· Untuk ruangan yang digunakan oleh selain pekerja radiasi besarnya paparan 10 mR/minggu.

 baca selanjutnya ( Klik READ MORE )



Reaksi: 

Selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia ke - 65


[ Cafe Radiologi ]

Semua staf Cafe Radiologi mengucapkan selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke - 65, semoga di hari kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus dan di rayakan setiap tahunnya, Maka Republik Indonesia setiap tahun nya juga akan terus berkembang dan menjadi salah satu negara maju dalam berbagai aspek kehidupan.

semoga pada hari kemerdekaan Republik Indonesia ini rakyat Republik Indonesia semakin sejahterah, pemimpin negeri ini semakin mengurangi tindakan-tindakan yang dapat mencoreng nama bangsa indonesia semoga dapat mengharumkan nama bangsa indonesia ke dunia internasional.

tetap semangat '45 , semoga Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini menjadi negara yang sangat di pandang di dunia internasional dari berbagai aspek..

Amin


Merdeka !!!
Merdeka !!!
Merdeka !!!

HIDUP INDONESIA !!!'

MAJULAH NEGERI KU !

Reaksi: 

Interaksi radiasi dengan sel hidup

Interaksi antara radiasi dengan sel hidup merupakan proses yang berlangsung secara bertahap. Proses ini diawali dengan tahap fisik dan diakhiri dengan tahap biologik. Ada empat tahapan interaksi, yaitu : 

1. Tahap Fisik berupa absorbsi energi radiasi pengion yang menyebabkan terjadinya eksitasi dan ionisasi pada molekul atau atom penyusun bahan biologi. Proses ini berlangsung sangat singkat dalam orde 10-16 detik. Karena sel sebagian besar (70%) tersusun atas air, maka ionisasi awal yang terjadi di dalam sel adalah terurainya molekul air menjadi ion positif H2O+ dan e- sebagai ion negatif.   

2. Tahap fisikokimia dimana atom atau molekul yang tereksitasi atau terionisasi mengalami reaksi-reaksi sehingga terbentuk radikal bebas yang tidak stabil. Tahap ini berlangsung dalam orde 10-6 detik. Karena sebagian besar tubuh manusia tersusun atas air, maka peranan air sangat besar dalam menentukan hasil akhir dalam tahap fisikokimia ini. Efek langsung radiasi pada molekul atau atom penyusun tubuh selain air hanya memberikan sumbangan yang kecil bagi akibat biologi akhir dibandingkan dengan efek tak langsungnya melalui media air tersebut. Ion-ion yang terbentuk pada tahap pertama interaksi akan beraksi dengan molekul air lainnya sehingga menghasilkan beberapa macam produk , diantaranya radikal bebas yang sangat reaktif dan toksik melalui radiolisis air, yaitu OH* dan H*. Reaksi kimia yang terjadi dalam tahap kedua interaksi ini dapat dilihat pada Hand Out (maaf soalnya di postingan ini tidak bisa menuliskan tanda panah dan rumus molekul air dengan benar)   Radikal bebas OH* dapat membentuk peroksida (H2O2) yang bersifat oksidator kuat (prosesnya dapat dilihat pada Hand Out) 

3. Tahap kimia dan biologi yang berlangsung dalam beberapa detik dan ditandai dengan terjadinya reaksi antara radikal bebas dan peroksida dengan molekul organik sel serta inti sel yang terdiri atas kromosom. Reaksi ini akan menyebabkan terjadinya kerusakan-kerusakan terhadap molekul-molekul dalam sel. Jenis kerusakannya bergantung pada jenis molekul yang bereaksi. Jika reaksi itu terjadi dengan molekul protein, ikatan rantai panjang molekul akan putus sehingga protein rusak. Molekul yang putus ini menjadi terbuka dan dapat melakukan reaksi lainnya. Radikal bebas dan peroksida juga dapat merusak struktur biokimia molekul enzim sehingga fungsi enzim terganggu. Kromosom dan molekul DNA di dalamnya juga dapat dipengaruhi oleh radikal bebas dan peroksida sehingga terjadi mutasi genetik.
Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Umbul umbul radiologi - Asal usul LPG 3kg meledak


Akhir- akhir di media cetak maupun media elektronik memberitakan bahwa tabung gas LPG 3Kg sering meledak.




mungkin itu pengaruh dari warna tabung LPG tersebut , yaitu warna HIJAU.. coba kita ingat masa lalu dengan judul lagu " balon ku" .. yg meletus balon ny warna apa di lagu itu? HIJAU kan ? "Meletus balon hijau , DORRR".. coba warnanya merah , kuning , kelabu, merah muda , dan biru, pasti ga meletus seperti warna hijau.


sedangkan tabung LPG 12kg jarang sekali meledak, dikarenakan tabung tersebut berwarna biru..


sebaik ny tabung LPG 3kg yang tadi ny warna hijau di ganti dengan warna yg selain hijau,, bisa merah, kuning, kelabu, merah muda, dan biru.

Reaksi: 

Umbul - umbul bagian II - Kampus cerita lucu


AGATA VILLAGE

I


Perpustakaan Universitas Kukuruyuk PetokPetok(UKPP) ….siang hari di tengah panas matahari Jakarta tetap berdiri kokoh di lantai 2 kampus UKPP. ngggg….perpus sedang ramai kala hari itu.Perpustakaan yang menyediakan berbagai jenis hidangan makanan,eh salah salah ..maksud saya berbagai jenis buku,mulai dari cara masak,bikin foto Rontgen ,bikin getuk bahkan 1001 tips bikin dosen marah pun juga ada.


***************************************************

..”wey,Lu gamers y?”…Pembicaraan hangat yang agak kurang bersahabat ini dilontarkan oleh HK. HK pemuda tampan rupawan nan gagah berani dan tidak lupa rajin menabung ini merupakan sosok manusia paling jayus satu gank Agata ,atau bahkan satu angkatan ini. Dengan kacamatanya yang khas dan model cranium dengan bagian maxilla dan mandibula yang saling berkejar-kejaran(masih belum dapat ditentukan siapa pemenangnya) membuat anak ini semakin lincah terutama dalam hal perjayusan kata. Atau dengan kata lain beliau mampu membuat khalayak ramai tertawa gila sampai caecum anda keluar dari mulut.

Dan tak ketinggalan aktivitas lain yang tidak kalah menarik dari dirinya ialah hobinya atau rutinitas atau entah lah disebut apa,…… beliau punya kebiasaan sarapan dengan roti.

Roti ?? Hmmmm.. Kebiasaan Leluhur budaya Timur kita tidak pernah mengajarkan kebiasaan ini, Tapi entahlah ,, pokoknya roti ini lah yang kelak akan membuat staminanya kokoh sehingga perbendaharaan katanya tidak pernah meleset. Cepat dan tepat menembus urat nadi jayus 1 angkatan. Namun,di balik cavum orisnya …eh salah salah . .dibalik kepribadiannya tersebut beliau ialah sosok yang paling mengerti dan selalu up to det soal IT,Elektronik,Komputer maupun segala sesuatu yang memiliki ikatanbatin dengan ketiganya. Tidak jarang banyak rekan-rekan 1 angkatan yang selalu meminta pertolongannya.Sambil tetap bercanda pastinya……hahahaha

Dan,satu lagi hobi yang tidak kalah menarik dari kepribadian seorang HM ialah hobinya yang gemar duduk di samping supir. Tidak perduli supir, masinis ,pilot atau pengendara delman sekalipun ,pokoknya dia selalu menempati posisi di samping pengemudi. Nanti akan saya jelaskan lebih detail tentang hobinya ini.


↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘↘
Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Umbul - umbul bagian III - Busway


BUsWAY


…”jm stg7..bsway” ,pesan singkat yang dikirim kira-kira jam5 subuh sebelum mandi. Inilah sms rutin yang selalu dilakukan oleh dua anak Agata yang sangat kompak. SS dan HM,two partner in crime.

SS dan HM memang merupakan 2 sahabat yang sangat akrab dalam komplot Agata ini. Bagaimana tidak ? ! dalam setiap situasi dan kondisi mereka selalu bersama, yang memisahkan mereka berdua hanyalah kelompok belajar dalam kelas mereka. SS menjadi ketua di kelompok IV kelas reguler ,sedangkan HM menjadi ketua kelompok III. (Sebenarnya tidak pernah ada ketua-ketua dalam kelompok belajar di kelas. Saya hanya mengambil asumsi bahwa absen pertama dalam kelompok akan menjadi ketua kelompok.hehehe)

SS dan HM pun punya nama panggilan yang cukup unik antara satu dan yang lainnya. Panggilan ini terkesan eksentrik namun sedikit berbau biologis. Tidak tahu tepatnya siapa yang memulai panggilan ini ,namun panggilan ini akhirnya akan dipakai oleh satu komplot Agata.

…”bentar lagi t#2t ! mcet, pesan sms yang masuk ke SS. Mengindikasikan bahwa SS ialah seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan menepati janji untuk segera tiba di Bandar Udara Kalideres,,(jayus)..Pelabuhan Kalideres( tidak humoris)…Stasiun Kalideres( beneran jayus)..Terminal Bus Kalideres. SS setia menunggu HM di dekat parkiran motor terminal. Untung saja SS tidak membawa remote control,remote AC atau bahkan remote TV. Karena bisa saja SS dicurigai sebagai pedagang asongan dari Roxy Square.





..”t#2t..”parah bener nih mamae .”gumam SS dalam hati. Bagaimana tidak ? Begitu panasnya hati SS saat mengetahui jam yang ada pada telepon genggam nya menunjukan pukul 06.45 wib. ..”jayus tu anak..dikira busway bisa terbang kali..”ketus SS dalam hati sambil mengutak-atik tamagochi miliknya. Upss,maaf maksud saya handphone nya. Disebut tamagochi karena memang bentuk serta ukurannya hampir mirip dengan mainan dari Jepang. Entahlah ,,SS masih belum berniat menggantinya. Memang ciri anak yang sederhana dan panutan pemuda remaja metropolitan zaman sekarang. SS memang dikenal santun dan hidupnya tidak berfoya-foya. Ciri laki-laki idaman setiap mertua.

Kembali ke topik permasalahan,,jam sudah menunjukan pukul

06.50 wib,.HM tetap tak menunjukan batang giginya. Sms pun tidak dibalas ,miscall ga diangkat ? ?,terrible ! !..where is HM ?

Akhirnya SS memutuskan untuk menunggu HM di 5 menit terakhir perpanjangan waktu. Waktu loss time yang bilamana diberikan pada Cristiano Ronaldo dapat dipakai untuk membawa Portugal menjuarai piala dunia ,atau untuk Ilmuwan sekaliber Einstein dapat dipakai untuk menghasilkan lampu 10 watt ,atau dapat juga dipakai oleh Radiografer untuk menghasilkan gambar thorax dengan sempurna ,kini dipakai hanya untuk menunggu seonggok cecunguk yang berjanji akan datang tepat waktu pukul 06.30 wib. Sampai sekarang saya kurang paham sebenarnya jam SS atau jam HM yang bermasalah.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Teenggggg..tenggg..gujes..gujessss…tengg tengg gujes gujes..

Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Umbul - umbul bagian I - History of Agata


mmm... ga usah banyak cincong , qt mulai ajah pokok dan inti dari yang menjadi permasalahan ini ...


cerita ataupun dongeng ini dimulai dari sebuah kampus yang tidak begitu ternama dan tidak begitu tenar , tp kampus itu pun dapat di AKUI oleh indonesia karena bisa menjebolkan jebolan yang berprestasi , berprestasiiii dalam segala aspek , terutama dalam aspek ketawa ketiwi dan lelucon tiada tara ...sebut saja kampus itu bernama UNIVERSITAS Kukuruyuukk betok betok.. maaf sebelum nya kalau cerita ini bisa membuat anda - anda akan terpingkal-pingkal mendengar ataupun menyaksikan secara sistematis dan dilematis dari cerita ini (jangan lupa ambil teh atau kopi untuk membaca cerita , ehh bkn cerita deng, tp cenderung kee dongeng , di jamin MEMBOSANKAN)... ahiak ahiak ahiak....


selamat menikmati.


MARI KITA MULAI DONGENG YANG MEMBOSANKAN INI.


ada sekelompok ataupun bs d sebut segerombolan mahasiswa yg ingin mencoba keperuntungannya untuk masuk ke universitas di daerah jakarta, dan kebetulannya mahasiswa yang ingin mencoba keperuntungannya itu datang dari sebuah desa yang sama , sebut sajah desa itu bernama AGATA village (mari pertama-tama kita ulas apa itu AGATA village, AGATA Village merupakan desa termasyur dan mempunyai alam dan cuaca yang sangat mendukung bagi kehidupan manusia di sana , AGATA . bkn hanya khdpuan manusia saja, tp seluruh kehidupan Makhluk hidup yang ada di AGATA village dpt bertahan hidup dengan baik.village merupakan desa yang mempunyai udara yang sejuk jauh darii polusi. AGATA village pun mempunyai sertificate Village terfavorite , dan di akui keberadaannya.. mungkin dari kita uda ada yang sedikit mendengar dari mulut ke mulut tentang keberadaan AGATA Village tersebut)... nah skrg balik lagi ke persoalan d atas ... sebenernya mahasiswa yang saia maksud itu tidak lah berbekal pengetahuan , pendidikan , ataupun keahlian yang cukup untuk bisa masuk ke universitas yang saya maksud di atas , tp ada daya setelah pengumuman kelulusan tersebut mereka pun di terima , coba kalian bayangkan , faktoorrr apa yang bisa sekelompok orang yang tidak punya kemampuan pendidikan , pengetahuin ataupun keahilan yang memadai dapat masuk ke universitas yang begitu menginginkan mahasiswanya berpengetahuan yang memadai bahkan pengetahuan yang kearah profesional.. hanya faktor LUCK saja yang mmbuat mereka msk ke universitas yang saya maksud....


oia,sebelumnya saia belum ngasih tau ke kalian , segerombolan mahasiswa itu siapa c ?? segerombolan berarti banyak ?
Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Mengenal radiologi


Radiografer ,penata rontgen ,tukangfoto sinar x atau apalah namanya. Yang dari tadi saya sebutkan hanyalah sinonim atau persamaan kata dari definisi radiografer. Radiografer ialah salah satu tenaga kesehatan yang diberi tugas,wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan kegiatan radiografi dan imaging diunit pelayanan kesehatan bidang radiodiagnostik, imaging, radioterapi, dan kedokteran nuklir .

Seorang radiografer dapat menjalankan tugasnya secara mandiri maupun dalam satu tim(Dokter,Dokter Spesialis Radiologi, Dokter kedokteran Nuklir,dll). Dan seorang radiografer pun bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan kesehatan dalam bidang radiasi kepada masyarakat umum dengan tugas dan fungsinya yang dilandasi oleh Etika Profesi Kesehatan yang telah mengaturnya.

Dan tahukah anda ? ? ? ? di luar negeri radiografer disebut juga sebagai seorang Medical Imaging Technologist.Medical imaging itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan dengan  cara mengevaluasi area dari tubuh pasien yang tidak dapat terlihat secara kasatmata. Proses ini sendiri dilakukan untuk mengetahui dan mencari tahu adanya indikasi kelainan dari bagian objek yang diperiksa.

Medical Imaging Technologist
ialah seseorang yang memiliki kompetensi dan kapasitas dalam menggunakan perangkat - perangkat modalitas imaging dalam pekerjaannya melihat serta mengevaluasi area objek tubuh yang tidakdapat terlihat dengan mata telanjang. Beberapa perangkat tersebut antara lain :

~Radiografi

Modalitas ini menggunakan sinar x dalam pengoperasiannya. Sinar X atau dalam bahasa Inggrisnya disebut X-Ray ditemukan tahun 1895 oleh W.C.Roentgen ,disebut sinar x karena sifat-sifat sinar ini yang pertama – tama belum mereka ketahui. Terkadang pada zaman dahulu pun orang menyebut sinar x dengan nama sinar roentgen. Disebut sinarroentgen tak lebih sebagai sebuah tindakan pengapresiasian atas seorang ilmuwan besar yang berhasil menemukan suatu sinar yang kelak dapat dipergunakan untuk membantu diagnosa umat manusia.
Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Tips Di Bulan Ramadhan


Tips Puasa Tanpa Bau Mulut.


Meskipun bau mulut orang berpuasa bagi Allah lebih harum dari minyak kasturi, bukan berarti kita bebas menebarkan bau mulut kepada orang lain. Ada beberapa jenis tanaman yang cocok untuk mengatasi bau mulut dan bau badan. Tanaman itu mengandung bahan aktif berbau segar dan bermanfaat mematikan atau mengendalikan pertumbuhan bakteri serta memberikan bau harum bagi tubuh agar mulut kita tidak berbau saat sedang berpuasa.

Bahan - bahan:
• 2 jari kunyit,
• gula aren secukupnya,
• 1 gelas air.

Cara membuat: Kunyit dicuci bersih lalu diparut dan diremas dengan air. Setelah itu tambahkan gula aren, kemudian aduk-aduk hingga rata. Selanjutnya campuran ini diperas atau disaring. Air perasan diminum sekaligus pada malam hari menjelang tidur. Lakukan hal ini selama beberapa hari.

bahan-bahan:
• 5 helai daun sirih,
• 3 gelas air.

Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Sekilas Tentang Radiologi Dental


UMUM . Prosedur diagnostik dan pengobatan tidak dapat dilakukan dengan memuaskan tanpa berbagai teknik radiografi eksposur.. Gigi spesialis harus dapat benar posisi pasien, kepala tabung, dan film x-ray untuk eksposur film intraoral atau panorama. Dia juga harus mampu membaca dan mengikuti instruksi pabrik akurat
.
  Intraoral Radiografi
  Kebanyakan radiografi gigi yang dibuat pada film intraoral. Sebuah radiograf intraoral dibuat dengan film diadakan di mulut saat terpapar.. Intraoral radiografi dilakukan sehubungan lebih dekat ke objek memberikan detail lebih daripada yang mungkin dengan radiografi extraoral, yang diambil dari luar mulut, dan memiliki lebih sedikit superimposisi bayangan.
 
JENIS Film radiografi intraoral DAN KEPERLUAN MEREKA

  1. Periapikal. Film periapikal menyediakan informasi mengenai seluruh gigi dan jaringan sekitarnya.
  2. Bite-sayap (Interproximal).. Bantuan film menggigit-sayap di deteksi dan penentuan kedalaman karies atau cacat lainnya dari dua pertiga koronal (bagian mahkota) yang berlawanan gigi dan puncak alveolar sekitarnya.
  3. Occlusal. Film oklusal menyediakan sarana untuk memeriksa area yang lebih besar dari rahang dan melakukannya dari sudut yang berbeda daripada yang dimungkinkan dengan metode intraoral lainnya.  Ini sangat bernilai pada lokasi dan mendiagnosis patah tulang, batu saluran air liur, dan gigi yang terkena dampak. radiograf oklusal yang digunakan lebih jarang dari radiografi periapikal dan interproximal.
  PENEMPATAN paket FILM
  Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam penempatan dan stabilisasi paket film intraoral untuk mencapai hasil yang memuaskan.
  •   Pastikan bahwa film adalah posisi yang benar.
  • . Pusat film lingual dibandingkan gigi / gigi (kecuali gigi seri tersebut) yang diradiografi.
  •   Hindari gerakan film selama eksposur.
  • . Dalam menempatkan paket film di mulut, menghindari kontak antara film dan jaringan mulut sampai film ini di sekitar posisi yang diinginkan.  Banyak pasien cenderung muntah ketika film adalah bergerak sepanjang kontak dengan jaringan oral.  Kesabaran dan kelembutan akan membantu mengurangi tersedak. Membiarkan belah ketupat anestesi untuk membubarkan di lidah sebelum film ditempatkan di mulut kadang-kadang membantu. . Menginstruksikan pasien untuk bernapas dalam-dalam melalui hidung juga membantu dalam mengontrol gag refleks.
      Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )


Reaksi: 

Teknik Radiografi Sela Tursica


SELA TURSICA

PROYEKSI  LATERAL
(Merril's Atlas ; Philip W Ballinger)

Ukuran Kaset : 18 x 24 cm 
FFD : 90 cm 
CR : tegak lurus bidang film
CP : 2 cm anterior dan 2 cm superior dari MAE

Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan duduk tegak atau semi prone
- MSP tubuh sejajar dengan bidang film dengan kepala diposisikan true lateral
- kepala diposisikan true lateral dengan menempatkan MSP kepala sejajar dengan bidang film dan garis interpupilary tegak lurus dengan bidang film
- Atur kedua bahu agar berada pada bidang transversal yang sama
- Atur kepala sehingga garis IOML sejajar dengan garis khayal horizontal film
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Sela Tursica





Kriteria Gambar : 


- Tampak sela tursica proyeksi lateral dipertengahan film
- Processus Clinoideus anterior kiri dan kanan superposisi
- Processus Clinoideus posterior kiri dan kanan superposisi
- Dorsum sellae dan clivus blumenbachi
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan ukuran objek yang diperiksa
- Tampak marker R atau L sebagai penanda objek kanan atau kiri


*

Reaksi: 

Teknik Radiografi Processus Mastoideus

PROCESSUS MASTOIDEUS

Ukuran kaset : 24 x 30 cm 
FFD : 90 cm
CR : 15 Derajat caudally
CP : 2.5 cm superior dari ujung processus mastoideus

Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan dengan MSP tubuh tepat pada Mid Line meja pemeriksaan
- Kepala diposisikan dari posisi AP hingga membentuk sudut 55 derajat terhadap bidang film ke arah objek yang tidak difoto
- Posisikan Infra Orbito Meatal Line ( IOML ) tegak lurus dengan bidang film
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Processus mastoideus

Kriteria Gambar :

- Tampak processus mastoideus di bawah os occipital tanpa superposisi dengan tulang tulang kepala
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan ukuran objek yang diperiksa
- Tampak marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan

Reaksi: 

Teknik Radiografi Mandibula


MANDIBULA

PROYEKSI PA dan PA AXIAL Mandibula

Ukuran Kaset : 24 x 30 cm 
FFD : 90 cm
CR PA : Tegak Lurus bidang film
      PA Axial : 20 - 25 derajat cranially
CP PA : Pertengahan antara kedua bibir
      PA Axial : menembus ujung hidung


Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan prone atau duduk
- Tempatkan lengan pasien pada posisi yang nyaman dan atur bahu, sehingga beada pada bidang transversal yang sama
- Letakkan kepala dimana dahi dan hidung pasien menempel pada bidang film. untuk mendapatkan ramus mandibula, pusatkan ujung hidung berada pada pertengahan bidang film
- MSP tegak lurus pada bidang film
- Lakukan fiksasi dengan menggunakan spon dan sandbag untuk mencegah pergerakan dari objek kepala pasien
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Mandibula proyeksi PA dan PA axial


 
Kriteria Gambar :


- Kedua ramus dan bodi mandibula terproyeksi sama atau simetris
- Keseluruhan bagian mandibula terproyeksi tidak terpotong
- Pada proyeksi PA Axial, kedua condylus mandibula terproyeksi dengan jelas
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan ukuran objek yang diperiksa
- Tampak marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan.



Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Teknik Radiografi Orbita


ORBITA

PROYEKSI POSTERO ANTERIOR (PA) AXIAL ( Cadwell )
(Merril's Atlas ; Philip W. Ballinger)

Ukuran Kaset : 24 x 30 cm melintang
FFD : 90 cm
CR : 30 derajat caudally setinggi pertengahan orbita
CP : pertengahan kedua orbita

Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan prone atau erect dengan MSP tubuh tepat pada mid line meja pemeriksaan
- Bahu bertumpu sejajar pada bidang transversal dengan lengan diletakkan disamping tubuh dalam posisi yang senyaman mungkin
- Kepala diposisikan True PA dengan menempatkan dahu dan hidung menempel diatas kaset
- Posisikan kepala sehingga OML tegak lurus dengan bidang film
- Lakukan fiksasi dengan menggunakan spon dan sandbag untuk mencegah pergerakan dari objek kepala pasien
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Orbita proyeksi PA Axial (Cadwell)

 

Kriteria Gambar :

- kedua orbita tampak
- Petrous ridge kiri dan kanan simetris terproyeksi dibawah bayangan orbita
- Sinus frontalis dan sinus maxillaris terproyeksi
- Jarak Batas Lateral orbita dengan batas lateral kepala kiri dan kanan sama (simetris)
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan ukuran objek yang diperiksa
- Tampak marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan.

Reaksi: 

Teknik Radiografi Os Nasal


OS NASAL

PROYEKSI LATERAL

Ukuran Kaset : 18 x 24 cm memanjang
FFD : 90 cm
CR : Vertikal tegak lurus bidang film
CP : Pada pertengahan os nasal

Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan semiprone atau duduk dengan kepala diposisikan true lateral
- Kepala diposisikan true lateral sehingga MSP kepala sejajar dengan bidang film
- IPL tegak lurus bidang film
- Upayakan nasal bone pada pertengahan film
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Os Nasal dengan proyeksi Lateral




Kriteria Gambar :

- Tampak os nasal proyeksi lateral dipertengahan film
- Tidak terjadi perputaran struktur os nasal
- Tampak struktur soft tissue nasal
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan ukuran objek yang diperiksa.

 

PROYEKSI PA 

Water's

Ukuran Kaset : 18 x 24 cm memanjang
FFD : 90 cm
CR : tegak lurus bidang film
CP : menembus acanthion


Posisi Pasien :

- Pasien prone atau duduk tegak dengan MSP tubuh tepat pada mid line meja pemeriksaan
- Bahu bertumpu sejajar pada bidang transversal dan lengan diletakan pada posisi senyaman mungkin
- Posisi objek posisikan MSP kepala sehingga tegak lurus dengan bidang film
- Ekstensikan leher dan letakkan dagu pada bidang film, kepala diposisikan agar mentomeatal line tegak lurus dengan bidang film
- Orbito meatal line diatur membentuk 37 derajat terhadap bidang film
- Lakukan fiksasi dengan menggunakan spon dan sandbag untuk mencegah pergerakan dari objek kepala pasien
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Os nasal proyeksi waters

Kriteria Gambar :

- Tampak cartilago septum nasi dipertengahan film tanpa perputaran objek
- Tampak sinus maxillaris
- Tampak kedua rongga orbita
- Tampak Kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai ukuran objek yang diperiksa

Reaksi: 

Teknik Radiografi Os Petrosum


OS PETROSUM
(PROYEKSI STENVERS dan PROYEKSI MAYER'S)

PROYEKSI STENVERS 

Ukuran film : 18 x 24 cm 
FFD : 90 cm
CR : 12 derajat cranially 
CP : Pertengahan antara outer chanthus dengan MAE (Steven B. Dowd, Bettye G Wilson) atau pada 2.5 cm anterior MAE (Phillip W Ballinger) objek yang menempel film.

Posisi Pasien :

- Pasien prone di atas meja pemeriksaan
- Beri tanda letak petrosum yang akan diperiksa pada 2.5 cm anterior dari MAE sebagai Central Point (CP)
- Kepala diposisikan 45 derajat ke arah objek yang diperiksa dengan menempatkan Dahi, hidung, dan pipi menempel pada area bidang film, IOML tegak lurus dengan bidang film
- Lakukan fiksasi dengan menggunakan spon dan sandbag untuk mencegah pergerakan dari objek kepala pasien
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Os Petrosum dengan proyeksi Schuller's



Kriteria Gambar :

- Petrous ridge dan mastoid air cells tervisualisasi pada pertengahan film
- Processus mastoideus tampak di bagian bawah batas cranium
- Condilus mandibula terproyeksi superposisi dengan tulang cervical
- Canalis auditoris internal, Cochle, dan tulang tulang labyrinth terproyeksi dibawah petrous ridge
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan objek yang diperiksa
- Tampak marker R atau L sebagai penanda objek kanan atau kiri.
Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Teknik Radiografi Mastoid Air Cells


MASTOID AIR CELLS

( KIRI DAN KANAN )

PROYEKSI SCHULLER'S

Ukuran kaset : 18 x 24 cm memanjang
FFD : 90 cm
CR : 25 derajat menembus pertengahan film
CP : 2.5 cm posterior dari MAE ( Meatus Acusticus Externa )

Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan prone dengan kepala diposisikan true lateral
- Kepala true lateral dengan menempatkan MSP kepala sejajar pada bidang film
- IPL tegak lurus dengan bidang film
- IOML sejajar dengan bidang film
- Telinga pasien dilipat kedepan supaya objek tergambar dengan jelas
- Lakukan fiksasi dengan menggunakan spon dan sandbag untuk mencegah pergerakan dari objek kepala pasien
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Mastoid air cells proyeksi schuller's



Kriteria Gambar :

- Tampak bagian os mastoid dengan bagian os petrosum dipertengahan film
- Tampak Mastoid air cells di bagian posterior dari petrous ridge
- TMJ tampa di bagian anterior dari petrous ridge
- Bagian mastoid dan petrosum yang tidak diperiksa terproyeksi dibagian inferior
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan objek yang diperiksa
- Tampak marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan.



Note : Lakukan foto mastoid air cells kiri dan kanan untuk perbandingan

Reaksi: 

Teknik Radiografi Sinus Paranasal


SINUS PARANASAL ( 3 Posisi )

( WATERS, LATERAL, DAN CADWELL )


PROYEKSI WATER'S

Ukuran Kaset :18 x 24 cm memanjang
FFD : 90 cm
CR : Horizontal tegak lurus pada bidang film ( Untuk pasien errect )
        Vertikal tegak lurus pada bidang film ( Untuk pasien supine )
CP : Tepat pada parieto occipital menembus acanthion

Posisi Pasien :

- Pasien diminta untuk berdiri menghadap bucky stand atau posisi kepala nya PA dengan MSP tubuh tepat pada mid line kaset
- Kedua telapak tengan menempel pada dinding
- Posisikan kepala dan dagu sehingga MSP tegak lurus pada bidang film
- Ekstensikan kepala pada posisi yang benar
- Atur kepala sehingga Orbito meatal line (OML) membentuk sudut 37 derajat dari bidang film
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan sinus paranasal proyeksi waters


Kriteria Gambar :

- Tampak sinus frontalis dan sinus ethmoidalis (distorsi)
- Jarak batas lateral orbita dengan batas lateral kepala kiri dan kanan sama atau simetris
- Petrus ridge terproyeksi dibawa maxilaris
- Kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan objek yang diperiksa
- Tampak sinus maxillaris dan fossa nasalis
- Tergambar marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan
Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

Teknik Radiografi Kepala


KEPALA atau CRANIUM

( AP, LATERAL , DAN PA )

PROYEKSI AP

Ukuran Kaset : 24 x 30 cm memanjang
FFD : 90 cm
CR : Vertikal tegak lurus film
CP : Tepat pada Glabella atau nasion

Posisi Pasien :

- Pasien tidur pada posisi supine diatas meja pemeriksaan dengan MSP tubuh tepat pada Mid Line meja pemeriksaan
- Kepala diposisikan AP dengan menempatkan MSP kepala tegak lurus pada bidang film
- Orbito Meatal Line (OML) tegak lurus bidang film
- Lakukan fiksasi pada bagian kepala dengan menggunakan spon dan juga sandbag untuk mencegah perputaran atau pergerakan pada objek kepala pasien
- Atur luas kolimasi atau batas lapangan penyinaran sesuai dengan besar objek ( tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit ) sebagai tindakan untuk proteksi radiasi terhadap pasien
- Jangan lupa untuk menggunakan Grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik

- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron

- Jika sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah disesuaikan untuk pemotretan kepala AP




Kriteria Gambar :
- Seluruh kepala tampak pada proyeksi Antero Posterior (AP), dengan batas atas verteks dan batas bawah simphysis menti (kedua batas itu diharapkan tidak terpotong)
- Kepala dalam posisi simetris, jarak batas orbita dengan lingkar kepala sama kiri dan kanan
- Tampak sinus frontalis, maksilaris, sinus ethmoidalis, dan crista galli
- Os frontalis tampak jelas
- Marker R atau L tampak sebagai penanda objek kiri atau kanan

 
Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 

ISTILAH, DEFINISI DAN PENGERTIAN “ETIKA”


BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu Ethos, yang secara etiminologi berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta, 1953) etika dijelaskan sebagai ilmu pengetauan tentang azas-azas akhlak (moral), sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988) etika dibedakan dalam tiga arti:
1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)
2. Kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat
Etika merupakan suatu ilmu yang normatif, dengan sendirinya berisi norma dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Titik berat penilaian etika ialah perbuatan baik atau jahat, susila atau tidak.
Manusia dalam semua perbuatannya, bagaimanapun juga mengajarkan sesuatu yang baik. Perbuatan baik merupakan tanggung jawab moral bagi semua manusia dan pelaksanaan dari tanggung jawab ini sebagai pencerminan dari jiwa yang berpribadi. Bertanggung jawab berarti pula memfungsionalkan sifat-sifat manusia untuk mempertahankan pribadi yang luhur, serta dapat mendudukkan nilai harga dari manusia sebagai manusia. Seperti kita ketahui etika itu sangat menentukan kebiasaan kita dan tingkah laku kita terhadap sesuatu hal yang menyangkut akan budi pekerti manusia.

I.2 TUJUAN
Tujuan kita mempelajari etika adalah meningkatkan diri kita terhadap moral, norma dan sikap kita dalam menjalani sesuatu, etika itu harus digunakan sebagai taraf kesopanan kita untuk menghadapi manusia dengan berbagai sifat, suku, ras, bahasa, dan negara. Dengan kita mempelajari etika jadi kita mengerti mana yang baik dan buruk, sehingga kita bisa mengambil manfaatnya.

I.3 MANFAAT
Etika dapat mengatur tingkah laku dalam kehidupan kita, baik itu dalam kehidupan pergaulan, pekerjaan atau bermasyarakat. Sehinggga kita dapat membedakan mana yang baik atau buruk dalam melakukan suatu perbuatan. Dan etika juga dapat menjadikan tolak ukur dari kita sebagai manusia dengan manusia lain, yang menimbulkan sikap saling menghormati dan menghargai walaupun berbeda agama, ras, bahasa, bangsa, suku, dan adat isitiadat satu sama yang lain.


BAB II. ETIKA

A. PENJERNIHAN ISTILAH
Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )

Reaksi: 
back to top