MENGENALI PESAWAT CT Scan Multislice




Seiring dengan kemajuan teknik komputerisasi, alat CT Scan mengalami kemajuan yang sangat pesat terutama selama tahun 1990-2000, mulai dari konvensional CT Scan kemudian menjadi Helical/Spiral CT Scan pada tahun 1995, dan saat ini sudah sampai era multidetektor CT Scan (MDCT) atau disebutkan juga Multislices CT Scan.

Computed Tomografi ( CT ) Scan adalah suatu alat radiologis penunjang diagnostik yang menggunakan Sinar X melalui teknik Tomografi dan komputerisasi yang modern. Sinar X menembus tubuh manusia dibuat sedemikian rupa, sehingga dalam bentuk potongan penampang tipis, seakan-akan tubuh kita dipotong-potong dalam bentuk potongan-potongan penampang tipis horizontal/axial, sinar-sinar tersebut setelah menembus tubuh akan direkam oleh detektor-detektor dalam bentuk data-data digital. oleh perangkat komputer data digital yang diperoleh, dikonversikan ke dalam bentuk bayangan organ hitam putih dan kemudian dapat dicetak pada kertas film.





Perbedaan nyata antara CT Scan sebelumnya dan MDCT adalah dalam jumlah detektornya. Sebelum era MDCT, alat CT Scan hanya memiliki satu baris detektor, untuk itu alat CT Scan yang bukan MDCT disebutkan juga sebagai single detektor CT- SDCT, termasuk di dalamnya spiral /helical CT. Jumlah detektor dalam satu baris bervariasi dari ratusan sampai ribuan jumlahnya, semakin canggih semakin banyak detektornya.




MDCT memiliki detektor lebih dari satu baris, itu sebabnya disebut Multidetektor CT. Saat ini ada MDCT berdetektor 2,4,8 dan 16 baris, dan saat ini teknologi tercanggih dalam MDCT adalah 16 baris, disebut juga MDCT 16 Slices seperti yang baru saja terpasang di bagian radiologi RS HUSADA (sejak bulan Januari 2004 ).

Peran Klinis MDCT
Selain berfungsi sebagai pemeriksaan-pemeriksaan kasus CT Scan pada umumnya, keunggulan MDCT 16 baris detektor ini adalah pada kecepatan Scan dan ketipisan potongan, sehingga organ tubuh yang sebelumnya tidak dapat di Scan seperti jantung dan pembuluh darahnya (koroner), maka saat ini dengan kecepatan MDCT 16 tersebut dapat direkam, karena gerakan jantung tersebut seakan-akan ”berhenti” (di-freezed) untuk dapat terekam, di mana pemeriksaannya meliputi: Coronary Calcium Score, Coronary Angiografi, Cardiac Morphologi, dan Function.


Di samping untuk pemeriksaan jantung dan pembuluh darah, MDCT juga dapat ”Meneropong” ke dalam saluran seperti usus besar, bronchus, dll yang dikenal sebagai intraluminar fly through atau virtual endoscopy: terdiri dari virtual angioscopy/ bronchoscopy/colonoscopy, di mana hasil peneropongan tersebut merupakan gambar animasi hasil rekayasa komputer.


Dari data mentah MDCT yang berjumlah ratusan sampai ribuan tersebut dengan melalui kecanggihan software komputer, maka data mentah tersebut dapat digunakan untuk merekonstruksi gambar menjadi potongan horizontal, memanjang (sagital atau coronal) dan miring (oblique), serta bentuk tiga dimensi yang dikenal sebagai 3-D volume rendering. Seluruh proses pembuat gambar rekayasa tersebut dibuat pada work station khusus. 


Di sini kemampuan perangkat lunak komputer dan orang yang menggunakannya sangat penting.
Pemeriksaan dengan MDCT sangat cepat, hanya beberapa detik saja. tentunya sebelum pemeriksaan memerlukan persiapan pada kasus tertentu. kemungkinan di masa mendatang akan menjadi alat pilihan diagnostik unggulan pada pemeriksaan screening/check up whole body. (*)

MENGENALI PESAWAT CT Scan Multislice




Seiring dengan kemajuan teknik komputerisasi, alat CT Scan mengalami kemajuan yang sangat pesat terutama selama tahun 1990-2000, mulai dari konvensional CT Scan kemudian menjadi Helical/Spiral CT Scan pada tahun 1995, dan saat ini sudah sampai era multidetektor CT Scan (MDCT) atau disebutkan juga Multislices CT Scan.

Computed Tomografi ( CT ) Scan adalah suatu alat radiologis penunjang diagnostik yang menggunakan Sinar X melalui teknik Tomografi dan komputerisasi yang modern. Sinar X menembus tubuh manusia dibuat sedemikian rupa, sehingga dalam bentuk potongan penampang tipis, seakan-akan tubuh kita dipotong-potong dalam bentuk potongan-potongan penampang tipis horizontal/axial, sinar-sinar tersebut setelah menembus tubuh akan direkam oleh detektor-detektor dalam bentuk data-data digital. oleh perangkat komputer data digital yang diperoleh, dikonversikan ke dalam bentuk bayangan organ hitam putih dan kemudian dapat dicetak pada kertas film.

ARTIKEL RADIOTERAPI




Radioterapi, Teknologi yang terus Berkembang


Oncologi radiasi adalah  gabungan antara disiplin ilmu kedokteran/ klinis dan sain yang dicurahkan untuk memanege  pasien-pasien dengan kenker 
Tujuan radioterapi adalah memberikan dosis radiasi  yang mematikan tumor pada daerah yang telah ditentukan (volume target)  sedangkan jaringan normal sekitarnya mendapat dosis seminimal mungkin dengan demikian akan dicapai rasio terapi yang optimal dengan tingkat efek samping yang minimal yang dikenal dengan “ Therapeutic ratio “
Semakin tinggi therapeutic ratio semakin baik hasil yang di peroleh, hal tersebut dapat ditingkatkan dengan upaya-upaya,  perkembangan ilmu Radiobiologi, Perkembangan tehnologi dari peralatan radioterapi, Kompetensi dari Sumber Daya Manusia (SDM) , Perlengkapan Sarana dan Fasilitas, Quality assurance Fisika    
Keberhasilan radioterapi tersebut tidak terlepas dari dukungan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang menjadi dasar ilmu onkologi radiasi, yaitu Radiobiologi, Fisika radiasi, Onkologi dan Tehnologi peralatan  radiasi yang berbasis komputer. Dan sejalan pula dengan kemajuan dalam tehnologi pencitraan.

Tujuan tersebut dapat dicapai dengan  planning dengan  peralatan yang baik dan tenaga yang terlatih.
Hal ini sangat ditunjang dengan kemajuan tehnologi dari alat-alat radioterapi dan kemajuan dari komputer


            Perkembangan teknologi di dunia kedokteran tidak dapat dipungkiri telah membantu penderita penyakit untuk sembuh dari sakit yang dideritanya dan/atau meningkatkan kualitas hidup penderita tersebut. Salah satu perkembangan teknologi yang sedang diperhatikan dan terus diikuti oleh kalangan praktisi dunia kedokteran adalah kemajuan di bidang yang berkaitan dengan perang terhadap penyakit yang digolongkan sebagai penyakit mematikan dan telah menelan banyak korban di seluruh dunia, kanker.
            Beberapa metode dapat diterapkan dalam penanganan penyakit keganasan ini, atau yang lebih dikenal dengan penyakit tumor ganas atau kanker, yaitu operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Metode-metode tersebut dapat diberikan secara mandiri atau dikombinasikan dengan metode yang lain seperti kemo-radiasi yaitu kombinasi kemoterapi dan radioterapi, metode penanganan yang akan dilakukan ditentukan oleh dokter berdasarkan jenis kanker dan stadium (tingkat kegansan) yang diderita.
            Metode penanganan kanker yang sarat dengan teknologi canggih yang sedang dan terus berkembang secara pesat adalah radioterapi. Radioterapi (atau juga dikenal dengan istilah terapi radiasi) menggunakan radiasi untuk mematikan sel-sel kanker atau melukai sel-sel tersebut sehingga tidak dapat membelah atau memperbanyak diri. Radioterapi dapat digunakan untuk meradiasi kanker primer dan/atau gejala-gejala yang diakibatkan oleh kanker yang telah meluas (metastasis).
Radioterapi dalam sejarahnya diawali dengan ditemukannya sinar-x oleh Roentgen pada tahun 1895 dan radioaktifitas oleh Becquerel di tahun berikutnya. Perkembangan revolusioner radioterapi dimulai sekitar tahun 1940. Perkembangan teknologi karena aktifitas perang dunia kedua yang sedang terjadi saat itu merupakan cikal bakal perkembangan pesat di bidang radioterapi. Produksi radionuklida baru dari reaktor dan pemercepat partikel pada mulanya digunakan untuk penelitian teknologi nuklir dan fisika energi tinggi, namun hal tersebut juga memberikan manfaat dalam dunia kedokteran yaitu penggunaan beberapa radionuklida baru yang dihasilkan untuk radioterapi, Co60 adalah salah satu sumber yang paling umum digunakan untuk terapi berkas eksternal. Perkembangan revolusioner berikutnya yang tidak kalah pentingnya adalah linear accelerator atau pemercepat partikel linier, hal tersebut dimungkinkan karena adanya pengembangan teknologi radar.


            Ada tiga prinsip dasar yang merupakan bagian dari radioterapi. Pertama, terapi berkas eksternal, terapi ini merupakan metode yang paling umum digunakan pada radioterapi. Terapi ini biasanya menggunakan modalitas berkas foton atau sinar-x energi tinggi yang dihasilkan oleh pemercepat partikel linier, sinar gamma yang dihasilkan oleh unit Co60 atau sinar-x energi yang lebih rendah dengan rentang energi 50-300 kV juga dapat digunakan. Sebagai tambahan, berkas elektron megavolt dapat juga digunakan untuk meradiasi tumor-tumor atau kanker yang letaknya di permukaan. Selain itu partikel bermuatan seperti proton dan pion juga sudah dan terus dikembangkan untuk keperluan radioterapi. Prinsip yang kedua adalah brakiterapi yaitu terapi dengan menggunakan bahan radioaktif tertutup yang diletakkan dekat atau pada tumor untuk memberikan dosis radiasi terlokalisasi sehingga dosis pada jaringan normal di sekitarnya dapat diminimalisasi, metode ini sangat terbatas penggunaannya dan sangat tergantung pada letak serta ukuran tumor. Dan metode yang sangat jarang digunakan adalah terapi sumber radioaktif terbuka.
            Perkembangan teknologi radioterapi khususnya terapi radiasi ekternal yang pesat terjadi karena didukung oleh perkembangan di dunia komputerisasi. Perkembangan tersebut juga seiring dengan perkembangan dalam teknik pencitraan (radiodiagnostik) seperti computed tomography (CT), kedokteran nuklir (gamma camera), magnetic resonance imaging (MRI), ultrasonografi (USG), dan computed radiography. Keseleruhan teknik pencitraan tersebut memberikan peranan penting dalam penentuan letak maupun ukuran tumor dengan presisi tinggi.
            Beberapa rumah sakit di Indonesia telah melengkapi peralatan medisnya untuk memerangi kanker di negeri ini khususnya dengan metode radioterapi, salah satu rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Kontribusi RSPP dalam layanan radioterapi bagi bangsa ini sudah dimulai sejak tahun 1971, sejak RSPP pertama kali dibuka. Pada saat itu RSPP memiliki pesawat Co60 yang dilengkapi dengan pesawat simulator untuk perencanaan. Sebagai informasi, pesawat Co60 dipasang pertama kali tahun 1951 di London, dan menyebar ke seluruh dunia dan merupakan sumber radiasi utama dalam radioterapi sampai dengan sekitar tahun 1971.1 Sehingga RSPP pada saat itu memiliki pesawat Co60 termasuk masih sesuai dengan perkembangan dunia pada saat itu.
Sampai tahun 1976 survei IAEA (International Atomic Energy Agency) menunjukkan bahwa di seluruh dunia baru ada 336 linac, yang 161 di antaranya berada di Amerika Serikat.2 Di dunia hanya ada beberapa vendor linac, sejauh ini yang terkenal adalah Varian, Siemens, dan Philips/Elekta. Rumah Sakit Pusat Pertamina tahun lalu (2006) telah memasang pesawat linac Siemens Primus 2D Plus. Pesawat yang ada dilengkapi dengan berbagai peralatan antara lain moving laser yang ditempatkan pada pesawat CT multislice yang bertindak sebagai simulator, TPS (treatment planning system) yang mampu untuk perencanaan 3D (dimensi), sistem pembuatan blok pembentuk berkas, beberapa alat fiksasi pasien, dosimeter absolut maupun relatif. Dengan semua perlengkapan yang ada tersebut RSPP sudah dapat mulai memberi layanan radioterapi dengan perencanaan 3D.

Perencanaan 2 dan 3 dimensi
Sebelum ada CT, perencanaan radioterapi 2D dilakukan secara manual, dengan cara meletakkan kurva isodose standard pada kontur tubuh pasien yang diambil langsung dari pasien menggunakan kawat timbal yang lentur atau dengan gips. Cara ini dilakukan di RSPP pada saat menggunakan pesawat Co60 yang lalu.
Setelah ada CT dan komputer, dasar perencanaan 2D menjadi lebih mudah. Perencanaan tetap didasarkan pada anggapan bahwa pasien dapat diandaikan sebagai suatu bidang yang berisi sumbu berkas utama. Informasi data pasien diperoleh dari citra CT yang akan dipakai sebagai acuan perencanaan, dan semua berkas utama yang akan dipakai diletakkan pada bidang tersebut. Distribusi dosis dihitung pada satu bidang dan dapat dilihat dalam displai distribusi dosis dalam 2D, yang selanjutnya dipakai sebagai pemandu penyinaran.
Padahal berbagai struktur yang perlu diperhatikan dapat berada di luar bidang acuan perencanaan, sehingga diperlukan pula informasi distribusi pada bidang lain. Seringkali tambahan data pasien diambil dari satu atau lebih bidang lain yang sejajar dengan bidang acuan, dan selanjutnya pada bidang tersebut dilakukan kalkulasi dosis maupun distribusinya. Perencanaan demikian sering disebut perencanaan 2.5 D. Perhitungan dosis tetap menggunakan algoritma 2D. Geometri berkas dan pembobotan berkas tetap dilakukan pada bidang acuan, jarang dilakukan pada bidang lainnya.
Dengan perkembangan komputer, perencanaan 3D umumnya saat ini sudah dapat dilakukan dengan semua TPS. Dalam perencanaan ini semua sumbu utama berkas tidak harus berada dalam satu bidang. Dasar tujuan perencanaan 3D adalah untuk memberikan dosis tumor tidak pada bidang tetapi dalam volume. Data pasien diperoleh dari banyak irisan citra CT yang selanjutnya diperoleh informasi dalam bentuk volume. Geometri berkas dan portal perlakuan ditentukan berdasarkan penyinaran volume target dengan menghindari struktur anatomi kritis yang harus dilindungi. Perencanaan 3D memungkinkan untuk membuat simulasi akurat penyinaran dengan menggunakan berbagai geometri berkas yang dimodifikasi. Distribusi dosis ditampilkan dalam volume, yang tentunya dapat pula ditampilkan dalam bidang yang didasarkan pada distribusi volume pada target maupun struktur normal kritis di sekelilingnya. Selain distribusi dalam bentuk volumetrik, dalam perencanaan 3D juga dapat diperoleh informasi histogram volume dosis kumulatif yang biasa disebut DVH (dose-volume histogram). Informasi DVH ini memberi informasi fraksi volume struktur kritis yang menerima dosis lebih besar dari suatu dosis tertentu. Informasi ini penting untuk mengambil keputusan secara cepat dalam memilih perencanaan yang tepat.
Unit Radioterapi RSPP telah memiliki fasilitas TPS Pinnacle3 (Versi terbaru V7.6c) dengan keunggulan simulasi maya atau virtual simulation, fasilitas ini memungkinkan untuk melakukan perencanaan penyinaran dan akurasi yang lebih tinggi dalam penempatan arah sinar sehingga jaringan sehat sekitarnya dapat dilindungi secara optimal tanpa mengurangi dosis radiasi yang harus diterima oleh tumor. Fasilitas ini juga meningkatkan kenyamanan pasien, setelah pasien di-scanning di ruang CT scan maka pasien diperbolehkan untuk kembali ke rumah atau ruang tempat pasien dirawat, dan keseluruhan proses perencanaan selanjutnya dilakukan di komputer TPS. Hal tersebut sangat berbeda dengan simulator konvensional. Pada simulator konvensional pasien harus tetap berada di ruangan simulator hingga tercapai hasil optimal perencanaan. Secara umum, pasien yang direncanakan untuk radioterapi menggunakan fasilitas virtual simulator akan berada pada ruangan simulator dengan waktu yang relatif lebih singkat dibandingkan dengan simulator konvensional.
Selain fasilitas virtual simulation, TPS di Unit Radioterapi RSPP juga memiliki fasilitas Digital Reconstructed Radiograph (DRR), fasilitas ini memungkinkan hasil CT scan biasa direkonstruksi menjadi hasil radiografi biasa, dan juga Digital Composite Radiograph (DCR) yang dapat menampilkan daerah pada tubuh yang menjadi perhatian dokter secara khusus (region of interest) misalnya tulang, paru-paru, jaringan lunak, dan lain sebagainya. Perencanaan juga dapat dioptimalkan dengan menggunakan beberapa percobaan (trial) hingga mencapai hasil yang paling optimal, salah satu indikator optimalisasi perencanaan tersebut menggunakan Dose Volume Histogram (DVH), yaitu grafik perhitungan untuk membandingkan dosis yang diterima oleh volume target tumor/kanker dengan dosis yang diterima oleh volume jaringan sehat sekitarnya. Fasilitas-fasilitas tersebut digunakan dalam proses perencanaan yang dilakukan oleh dokter ahli radiasi onkologi, dosimetris dan fisikawan medis secara komprehensif untuk pencapaian hasil perencanaan optimal, dan jika pasien membutuhkan alat-alat bantu radiasi seperti blok atau alat immobilisasi maka alat-alat tersebut dapat dibuat di ruangan mould (mould room).
Hasil perencanaan yang telah dilakukan kemudian akan diproses melalui sistem jaringan informasi terpadu ke sebuah sistem penunjang lainnya yaitu sistem pencatatan dan verifikasi (record and verify system / R&V system). Sistem tersebut juga turut mengambil bagian dalam menunjang keseluruhan proses radioterapi di Unit Radioterapi RSPP. Lantis R&V system merupakan salah satu sistem pencatatan dan verifikasi yang sudah dikenal oleh masyarakat radioterapi di seluruh dunia, dan sistem ini pula lah yang dimiliki oleh Unit Radioterapi RSPP (Versi 6.1). Sistem ini langsung terhubung dengan beberapa sistem lainnya seperti TPS dan kontrol panel pada mesin radioterapi sehingga sistem ini dapat mengkonfigurasi parameter-parameter mesin secara otomatis sesuai dengan perencanaan dari komputer TPS, hal tersebut dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan oleh penata radioterapi (human error), setelah parameter-parameter tersebut terkonfigurasi secara otomatis maka R&V system akan melakukan verifikasi ulang terhadap parameter-parameter tersebut terhadap perencanaan yang telah dilakukan. Keunggulan lain sistem ini adalah sistem pencatatan yang teratur dan sangat mudah dioperasikan (operator friendly) tetapi tetap memperhatikan tingkat proteksi yang tinggi terhadap keamanan data pasien. Secara keseluruhan, sistem ini memungkinkan penggunanya untuk beralih ke teknologi paperless atau sistem tanpa menggunakan pencatatan manual dengan kertas.
Selain hal-hal di atas, perencanaan 3D juga telah berkembang dengan berbagai teknik baru seperti conformal planning. Beberapa perkembangan revolusioner lainnya adalah Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT), Image-Guided Radiation Therapy (IGRT), dan stereotactic surgery.

Peralatan Dosimetri dan QA (Quality Assurance).
Radioterapi dengan linac berkaitan dengan dosis tinggi. Dosis pada target memerlukan ketelitian tinggi, demikian pula distribusi spasial dalam volume target serta struktur lain disekilingnya. Oleh karenanya pengukuran dosis dan penentuan distribusi dosis spasial sangat penting dan menentukan keberhasilan perlakuan radioterapi. Untuk pengukuran keduanya diperlukan dosimeter absolut dan dosimeter relatif. Peralatan dosimeter absolut diperlukan untuk untuk mengukur output pesawat yang sering disebut dengan kalibrasi. Dosimeter relatif digunakan untuk mengukur distribusi dosis spasial dalam medium, terutama dalam air yang dianggap simulasi jaringan lunak. Linac di RSPP dilengkapi dengan dosimeter absolut maupun dosimeter relatif, dan hasil pengukuran dengan dosimeter memenuhi ketelitian yang diperlukan klinis sesuai dengan rekomendasi berbagai badan internasional seperti IAEA (International Atomic Energy Agency) dan AAPM (American Association of Physicists in Medicine).
Quality assurance peralatan radioterapi merupakan salah satu komponen penting dalam QA komprehensif onkologi radiasi. Tujuan utama QA peralatan radioterapi adalah menjamin bahwa kinerja semua peralatan mempunyai kinerja prima, berada dalam batas yang ditentukan. Hasil tes penerimaan dan komisioning digunakan sebagai acuan untuk menentukan batas kinerja suatu peralatan. Setiap peralatan didesain memiliki karakter kinerja fungsional yang berpengaruh pada ketelitian geometri dan dosimetri dalam pemberian dosis pada pasien. Pelaksanaan QA terutama merupakan evaluasi terus menerus karakter kinerja peralatan. Rumah Sakit Pusat Pertamina memiliki berbagai peralatan QA dan beberapa diantaranya buatan sendiri. Ada beberapa rekomendasi protokol pelaksanaan QA yang diberikan oleh berbagai badan international. Salah satu diantaranya yang digunakan oleh RSPP adalah rekomendasi QA oleh AAPM.3











Radioterapi Unit Siemen D2 Plus Multi energi                              CT simulator Multi Slice dengan Moving laser                   












Tampilan  Treatmen planing system 3D  Pengukuran  Qualitas / Consistensi radiasi yang di keluarkan


Written by Bambang Dwi Karyanto and  Indra Yohannes


Referensi
1.      Johns H. E. And Cunningham J. R., The Physics of Radiology, Charles Thomas Publisher, illinois, Fourth edition 1983.

2.       Rock Mackie T and Palta J. R. (Editors), Teletherapy: Present and Future, Proceedings of the 1996 Summer School, American Association of Physicists in Medicine, Advanced Medical Publishing, Madison, Wisconsin, 1996.

3.      AAPM, Comprehensive Quality Assurance for radiation oncology. Report of AAPM Radiation Therapy Committee Task Group 40*, Med. Phys. 21, 581-618, 1994.

ARTIKEL RADIOTERAPI




Radioterapi, Teknologi yang terus Berkembang


Oncologi radiasi adalah  gabungan antara disiplin ilmu kedokteran/ klinis dan sain yang dicurahkan untuk memanege  pasien-pasien dengan kenker 
Tujuan radioterapi adalah memberikan dosis radiasi  yang mematikan tumor pada daerah yang telah ditentukan (volume target)  sedangkan jaringan normal sekitarnya mendapat dosis seminimal mungkin dengan demikian akan dicapai rasio terapi yang optimal dengan tingkat efek samping yang minimal yang dikenal dengan “ Therapeutic ratio “
Semakin tinggi therapeutic ratio semakin baik hasil yang di peroleh, hal tersebut dapat ditingkatkan dengan upaya-upaya,  perkembangan ilmu Radiobiologi, Perkembangan tehnologi dari peralatan radioterapi, Kompetensi dari Sumber Daya Manusia (SDM) , Perlengkapan Sarana dan Fasilitas, Quality assurance Fisika    
Keberhasilan radioterapi tersebut tidak terlepas dari dukungan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang menjadi dasar ilmu onkologi radiasi, yaitu Radiobiologi, Fisika radiasi, Onkologi dan Tehnologi peralatan  radiasi yang berbasis komputer. Dan sejalan pula dengan kemajuan dalam tehnologi pencitraan.

Tujuan tersebut dapat dicapai dengan  planning dengan  peralatan yang baik dan tenaga yang terlatih.
Hal ini sangat ditunjang dengan kemajuan tehnologi dari alat-alat radioterapi dan kemajuan dari komputer

Dasar-dasar Pesawat Rontgen




Dasar-dasar Pesawat Rontgen

·         Tegangan Line
Tegangan line adalah tegangan atau catu daya yang mensupply suatu alat/pesawat agar alat tsb dapat berfungsi. Tegangan Line dapat berupa tegangan AC maupun DC. Tegangan Line AC pada umunya diperoleh dari tegangan PLN

·         Line Voltage Compensator.
Line Voltage Compensator (LVC) sering disebut juga Line Selector.                                         LVC ini berada pada rangkaian awal dari power supply sebuah pesawat rontgen.
Tujuan LVC ini adalah mengatur agar tegangan yang masuk ke pesawat Rontgen sesuai dengan tegangan yang dibutuhkan oleh pesawat itu sendiri.
Kadang tegangan supply yang dari PLN nilainya dapat kurang atau lebih dari standar, maka LVC ini mengaturnya agar sesuai yang akan dikomsumsi pesawat tsb. Line Selector pada umumnya diatur secara manual oleh operatornya

·         Auto Trafo (Automatic Transformer).
Auto trafo bentuknya hampir sama dengan biasa, namun pada trafo ini jarang dijumpai adanya lilitan primer maupun sekundernya yang terpisah, lilitannya hanya lilitan tunggal yang terlilit pada inti besi, namun terdapat beberapa terminal pengaturan tegangan output.


·         Transformator.
Transformtor biasanya orang menyingkatnya dengan kata trafo, gunannya adalah untuk menaikkan atau menurunkan tegangan AC.
Pada hakekatnya trafo terdiri dari teras atau lempengan besi lunak yang disusun rapat, lilitan primer dan lilitan sekunder.
Lilitan primer adalah gulungan /lilitan kawat tembaga yang dialiri arus / tegangan yang masuk (input), sedangkan lilitan sekunder adalah gulungan kawat tembaga yang mempunyai tegangan output setelah inputnya diberi tegangan.
Kenaikkan/penurunan tegangan output sebanding dengan perbandingan jumlah lilitan pada primer maupn sekunder.

·         Tabung sinar x
Jenis tabung x dibedakan 2 jenis yaitu : Tabung rontgen degan anoda putar (Rotating anode) dan tabung rontgen dengan anoda diam (Stationary anode). Beberapa bagian yang terdapat pada tabung rontgen antara lain : Katoda, Anoda, Rotor (berada diluar insert tube), Stator, Target (piring anoda terbuat dari wolfram), Tangkai Molybdenum, Rumah tabung (tube housing, Expansion diaphragma, Tombol pengaman (safety switch), Tube windows( jendela tanung), Minyak pemdingin (olie trafo)

·         Katoda.
Merupakan tempat filamen yang terbuat dari kawat tungsten yang mempunyai titik lebur tinggi. Pada filamen terjadi emisi elektron akibat pemanasan filamen.
Emisi elektron artinya terlepasnya elektron dari atom-atom bahan filamen tersebut (atom Wolfram) oleh karena panas yang terjadi pada filamen. Banyaknya elektron bebas dapat terjadi pada permukaan filamen tergantung pada pengaturan tegangan yang masuk ke filamen diatur melalui pengaturan tahanan (Rheostat).
Disamping mempunyai kutub negatif, filamen juga dilengkapi alat pemusat elektron (focusing cup) pada ujung filamen.

·         Anoda.
Merupakan sasaran (target) yang akan ditembaki oleh elektron, dilengkapi dengan bidang focus (focal spot). Permukaan anoda membentuk sudut dengan kemiringan 45 derajat. Kemiringan ini untuk mendapatkan focus efektif agar sinar x yang keluar dari tabung dapat terarah.
Bahan anoda terbuat dari wolfram/tungsten, dg nomor atom 74 dan mempunyai titik lebur 3360 derajat Celcius, mempunyai keuntungan sebagai penghantar panas yang baik. Anoda ini juga berfungsi/merangkap sebagi kutub positif.

·         Tube Housing
Dinding bagian luar tabungdisebut rumah tabung ,erbuat dari metal, bagian dalamnya terbuat dari lapisan timbal (Pb), Fungsi dinding ini agar dapat menekan radiasi yang tidak dibutuhkan. Rumah tabung juga dilengkapi sambungan kabel tegangan tinggi yaitu kabel dari HTT.

·         Tombol (safety switch dan Expansion diaphragma)
Pada beberapa tabung dilengkapi juga dengan alat pengaman terhadap panas yang berlebihan yang mungkin terjadi didalam tabung akibat proses pembangkitan sinar x tersebut. Alat pangaman ini disebut safety switch denganmemmanfaatkan alat membran yang terdapat pada expansion chamber).

·         Windows (jendela tabung)
Pada bagian dimana sinar dapat keluar disebut poet (window) ditutup dngan bahan yang terbuat dari kaca atau mika/plastik/acrylic yang fungsinya disamping dapat melewatkan sinar x , juga dapat menahan minyak trafo yang ada didalam tabung agar tidak dapat keluar.

·         Dinding tabung
Dinding tabung insert ini terbuat dari gelas pyrex yang berfungsi untuk menempatkan filamen dan target berada didalam ruangan hampa udara. Keadaan hampa udara ini berfungsi agar elektron didalam tabung dapatdikendalikan, Tabung kaca yang tinggi kevakumannya ini terendam dalam minyak trfao. Minyak ini berfungsi sebagai bahan isolasi tegangan tinggi dan juga sebagai pendingin tabung rontgen.

·         Rotor.
Berfungsi agar anoda dapat berputar sampai 8000-9000 rpm. Keuntungan denga anoda putar antara lain pendinginan dpt lebih sempurna, target elektron dapat berganti-ganti sehingga bisa awet.

·         Filter tabung sinar-X.
Pada jendela tabung Rontgen ditempatkan / dipasang filter sinar xl. Ada 2 macam filter, yaitu : a. Inhernt filter dan b. Additional filter.

·         Inherent Filter.
Merupakan bahan-bahan yang dilalui sinar x setelah keluar dari target. Inherent filter terdiri dari gelas/kaca (tabung sinar x, minyak trafo, acrylic jendela tabung, seluruhnya setara dengan ketebalan dari 0,5 – 1,0 mm aluminium.

·         Additional Filter (filter tambahan).
Untuk setiap pesawat perlu mendapat tambahan filter yakni 1,5 mm – 2,0 mm ketebalan aluminium yang gunanya untuk dapat menahan sinar-x yang mempunyai panjang gelombang tertentu.
Untuk itu ada ketentuan-ketentuan (tabel tertentu) didalam penggunaan filter tambahan ini sesuai dengan besarnya KV yang digunakan.
Tabung Rontgen bila digunakan harus mempergunakan alat yang dapat mengarahkan dan membatasi lapangan penyinaran berupa collimator yang dapat diatur besar/kecilnya luas bidang pemaparan.

·         Persyaratan tabung sinar-X.
a. Terbuat dari Metalic dan pada bagian dalamnya dilapisi dengan timah hitam/timbal sehingga tahan panas terhadap sinar-x (x-ray proof)
b. Dinding tabung tahan akan goncangan (shock proof)
c. Harus mempunyai bahan isolasi (minyak trafo) dan tahan terhadap tegangan tinggi.
d. Pada tabung terdapat socket yang berhubungan dengan ujung kabel tegangan tinggi untuk anoda dan katoda.
e. Mampu menerima panas (Anoda heat storage capacity).

Dasar-dasar Pesawat Rontgen




Dasar-dasar Pesawat Rontgen

·         Tegangan Line
Tegangan line adalah tegangan atau catu daya yang mensupply suatu alat/pesawat agar alat tsb dapat berfungsi. Tegangan Line dapat berupa tegangan AC maupun DC. Tegangan Line AC pada umunya diperoleh dari tegangan PLN

·         Line Voltage Compensator.
Line Voltage Compensator (LVC) sering disebut juga Line Selector.                                         LVC ini berada pada rangkaian awal dari power supply sebuah pesawat rontgen.
Tujuan LVC ini adalah mengatur agar tegangan yang masuk ke pesawat Rontgen sesuai dengan tegangan yang dibutuhkan oleh pesawat itu sendiri.
Kadang tegangan supply yang dari PLN nilainya dapat kurang atau lebih dari standar, maka LVC ini mengaturnya agar sesuai yang akan dikomsumsi pesawat tsb. Line Selector pada umumnya diatur secara manual oleh operatornya

·         Auto Trafo (Automatic Transformer).
Auto trafo bentuknya hampir sama dengan biasa, namun pada trafo ini jarang dijumpai adanya lilitan primer maupun sekundernya yang terpisah, lilitannya hanya lilitan tunggal yang terlilit pada inti besi, namun terdapat beberapa terminal pengaturan tegangan output.





Vidio Teknik radiografi Mammography



Berikut Cafe Radiologi posting vidio tentang teknik radiografi mammae atau yang biasa disebut mammography

yu langsung di lihat dan dicermati


Vidio Teknik radiografi Mammography



Berikut Cafe Radiologi posting vidio tentang teknik radiografi mammae atau yang biasa disebut mammography

yu langsung di lihat dan dicermati


SAAT BALITA ANDA HARUS DIRONTGEN



SUNGGUH menyenangkan memiliki balita; manis, mungil dan menggemaskan. Kelincahan geraknya menyegarkan kembali kelesuan badan yang seharian terporsir karena bekerja. Senyumnya yang mengulum menambah suasana keindahan tersendiri. Bahkan tangisnya sekalipun seakan merupakan harmoni kehidupan yang melegakan perasaan.

Namun, nuansa-nuansa tersebut tidak lagi bisa dinikmati kala balita kita didera sakit, sekecil apapun. Terlebih kala dokter menyarankannya harus dirontgen. Pada kebanyakan orang tua yang merupakan pasangan keluarga muda, alih-alih segera melaksanakan perintah dokter, yang terjadi malah dirundung bingung. Padahal rontgen adalah hal biasa yang merupakan salah satu cara dokter dalam berupaya menegakkan diagnosa. Karenanya, perlu dijalin kerja sama dari berbagai pihak –pasien, keluarganya dan petugas-- agar hasil foto rontgen yang didapat maksimal. Berikut ini beberapa langkah praktis yang sebaiknya diikuti oleh para orang tua.

1. Pastikan bahwa rontgen yang akan dilakukan adalah atas instruksi dokter.
2. Tanyakan pada petugas radiologi hal-hal yang harus Anda persiapkan sebelum dilakukannya pemeriksaan.
3. Bila memungkinkan, disarankan Anda membawa makanan atau mainan kesukaan sang-Anak. Sehingga apabila Anak kita sulit diajak kerja sama, maka manfaatkanlah "sesuatu" yang telah Anda bawa tersebut.
4. Saat membawa balita ke tempat rontgen sebaiknya didampingi oleh Ayah - Bunda atau dua orang dewasa lainnya. Hal ini dimaksudkan bila saat akan difoto Anak kita meronta (non-cooperatif), maka merekalah yang akan membantu memeganginya.
5. Bebaskan bagian organ yang akan dirontgen dari sesuatu yang mengandung logam, misal; kancing baju, kalung, dll.
6. Anda yang akan menemani balita dalam ruang pemeriksaan, jangan lupa meminta baju proteksi (pengaman) radiasai pada petugas sebelum dilakukannya pemotretan.
7. Ikuti seluruh petunjuk yang disampaikan oleh petugas radiologi, dan ajukan pertanyaan bila masih ragu.
8. Bila foto dimaksudkan sebagai “controle” untuk mengetahui perkembangan pengobatan, foto lama harus dibawa serta.
9. Tanyakan kapan hasil rontgen dapat diambil.

Bila hal diatas dilaksanakan dengan seksama, Insya Allah, secara tidak langsung berarti Anda telah memberi yang terbaik untuk si-Balita, karena:
1. Anak kita akan cenderung lebih mudah untuk diajak kerja sama, dengan demikian kualitas foto yang dihasilkan akan lebih baik.
2. Bila hasil baik, maknanya adalah akurasi interpretasi dokter ahli radiologis dalam meng-expertise (analisa) memiliki bobot yang optimal.
3. Dan ini berujung pada proses terapi yang lebih terarah untuk menuju kesembuhan yang prima.

Selamat mencoba, Wallahua ‘lam bieshawab.

SAAT BALITA ANDA HARUS DIRONTGEN



SUNGGUH menyenangkan memiliki balita; manis, mungil dan menggemaskan. Kelincahan geraknya menyegarkan kembali kelesuan badan yang seharian terporsir karena bekerja. Senyumnya yang mengulum menambah suasana keindahan tersendiri. Bahkan tangisnya sekalipun seakan merupakan harmoni kehidupan yang melegakan perasaan.

Namun, nuansa-nuansa tersebut tidak lagi bisa dinikmati kala balita kita didera sakit, sekecil apapun. Terlebih kala dokter menyarankannya harus dirontgen. Pada kebanyakan orang tua yang merupakan pasangan keluarga muda, alih-alih segera melaksanakan perintah dokter, yang terjadi malah dirundung bingung. Padahal rontgen adalah hal biasa yang merupakan salah satu cara dokter dalam berupaya menegakkan diagnosa. Karenanya, perlu dijalin kerja sama dari berbagai pihak –pasien, keluarganya dan petugas-- agar hasil foto rontgen yang didapat maksimal. Berikut ini beberapa langkah praktis yang sebaiknya diikuti oleh para orang tua.

1. Pastikan bahwa rontgen yang akan dilakukan adalah atas instruksi dokter.
2. Tanyakan pada petugas radiologi hal-hal yang harus Anda persiapkan sebelum dilakukannya pemeriksaan.
3. Bila memungkinkan, disarankan Anda membawa makanan atau mainan kesukaan sang-Anak. Sehingga apabila Anak kita sulit diajak kerja sama, maka manfaatkanlah "sesuatu" yang telah Anda bawa tersebut.
4. Saat membawa balita ke tempat rontgen sebaiknya didampingi oleh Ayah - Bunda atau dua orang dewasa lainnya. Hal ini dimaksudkan bila saat akan difoto Anak kita meronta (non-cooperatif), maka merekalah yang akan membantu memeganginya.
5. Bebaskan bagian organ yang akan dirontgen dari sesuatu yang mengandung logam, misal; kancing baju, kalung, dll.
6. Anda yang akan menemani balita dalam ruang pemeriksaan, jangan lupa meminta baju proteksi (pengaman) radiasai pada petugas sebelum dilakukannya pemotretan.
7. Ikuti seluruh petunjuk yang disampaikan oleh petugas radiologi, dan ajukan pertanyaan bila masih ragu.
8. Bila foto dimaksudkan sebagai “controle” untuk mengetahui perkembangan pengobatan, foto lama harus dibawa serta.
9. Tanyakan kapan hasil rontgen dapat diambil.

Bila hal diatas dilaksanakan dengan seksama, Insya Allah, secara tidak langsung berarti Anda telah memberi yang terbaik untuk si-Balita, karena:
1. Anak kita akan cenderung lebih mudah untuk diajak kerja sama, dengan demikian kualitas foto yang dihasilkan akan lebih baik.
2. Bila hasil baik, maknanya adalah akurasi interpretasi dokter ahli radiologis dalam meng-expertise (analisa) memiliki bobot yang optimal.
3. Dan ini berujung pada proses terapi yang lebih terarah untuk menuju kesembuhan yang prima.

Selamat mencoba, Wallahua ‘lam bieshawab.

Artefact pada CT - Scan



Kali ini Cafe Radiologi akan membahas mengenai artefact yang terdapat pada CT-Scan.


1. Pengertian Artefact
Artefact merupakan gangguan pada tampilan gambar akibat berbagai kesalahan.

2. Ada berbagai macam artefact yang ditimbulkan akibat kesalahan-kesalahan dalam CT-Scan :

a. Streak Artefact
Streak Artefact itu berbentuk garis-garis vertical yang disebabkan tidak adanya keseimbangan antara scanning permulaan dengan scanning akhir. Penyebabnya yaitu pergerakan pasien dan sifat mekanik yang tidak seimbang

b. Beam Hardening Artefact
Beam Hardening Artefact itu berbentuk garis yang disebabkan oleh perubahan komposisi spectrum sinar-x akibat adanya material yang lebih padat

c. Partial Volume Artefact
Partial volume artefact merupakan artefact yang terbentuk pada daerah diantara kedua Os Petrosum, disebabkan tidak adanya korelasi yang tepat antara antenuasi dan absorbsi pada voxel yang tidak homogen

d. Noise
Noise merupakan bukan artefact yang sebenarnya tetapi menggambarkan penurunan resolusi dari suatu gambar CT-Scan akibat ketidaktepatan penentuan CT Number. Noise dapat terjadi akibat posisi yang tidak tepat, menghalangi radiasi optimal untuk mencapai detektor

e. Shading (bayangan)
Shading atau bayangan : perubahan progresif dari densitas suatu bagian dengan bagian lainnya pada suatu gambar. penyebabnya respon detector yang tidak sinkron dan penurunan spectrum energi sinar-x. contoh : " Cupping " yaitu artefak padat pada jaringan otak dekat calvaria

f. Motion Artefact
Motion Artefact : Hal ini dipandanga sebagai kabur atau goresan yang disebabkan oleh pergerakan dari objek yang tergambar

g. Windmill
Windmill : penggoresan penampilan dapat terjadi ketika detektor berpotongan dengan pesawat rekontruksi, hal ini dapat dihindari dengan menggunakan filter

h. Ring Artefact
Ring Artefact : Artefact yang paling umum terjadi, gambaran terkadang muncul satu atau banyak cincin , hal ini biasanya karena kesalahan detector.

Artefact pada CT - Scan



Kali ini Cafe Radiologi akan membahas mengenai artefact yang terdapat pada CT-Scan.


1. Pengertian Artefact
Artefact merupakan gangguan pada tampilan gambar akibat berbagai kesalahan.

2. Ada berbagai macam artefact yang ditimbulkan akibat kesalahan-kesalahan dalam CT-Scan :

a. Streak Artefact
Streak Artefact itu berbentuk garis-garis vertical yang disebabkan tidak adanya keseimbangan antara scanning permulaan dengan scanning akhir. Penyebabnya yaitu pergerakan pasien dan sifat mekanik yang tidak seimbang

b. Beam Hardening Artefact
Beam Hardening Artefact itu berbentuk garis yang disebabkan oleh perubahan komposisi spectrum sinar-x akibat adanya material yang lebih padat

c. Partial Volume Artefact
Partial volume artefact merupakan artefact yang terbentuk pada daerah diantara kedua Os Petrosum, disebabkan tidak adanya korelasi yang tepat antara antenuasi dan absorbsi pada voxel yang tidak homogen

d. Noise
Noise merupakan bukan artefact yang sebenarnya tetapi menggambarkan penurunan resolusi dari suatu gambar CT-Scan akibat ketidaktepatan penentuan CT Number. Noise dapat terjadi akibat posisi yang tidak tepat, menghalangi radiasi optimal untuk mencapai detektor

e. Shading (bayangan)
Shading atau bayangan : perubahan progresif dari densitas suatu bagian dengan bagian lainnya pada suatu gambar. penyebabnya respon detector yang tidak sinkron dan penurunan spectrum energi sinar-x. contoh : " Cupping " yaitu artefak padat pada jaringan otak dekat calvaria

f. Motion Artefact
Motion Artefact : Hal ini dipandanga sebagai kabur atau goresan yang disebabkan oleh pergerakan dari objek yang tergambar

g. Windmill
Windmill : penggoresan penampilan dapat terjadi ketika detektor berpotongan dengan pesawat rekontruksi, hal ini dapat dihindari dengan menggunakan filter

h. Ring Artefact
Ring Artefact : Artefact yang paling umum terjadi, gambaran terkadang muncul satu atau banyak cincin , hal ini biasanya karena kesalahan detector.

Sejarah dan Perkembangan CT - Scan


Sejarah dan Perkembangan CT-Scan

1. Pengertian CT - Scan

a. Tomography (CT) adalah sinar-x dengan menggunakan teknik tomografi dimana berkas sinar-x menembus bagian tubuh pasien dari berbagai arah
(Marthis Prokap and Michael Galanski, 2003 Chapter 1, P : 2)
b. CT ( Computed Tomography ) merupakan alat diagnostik sinar-x dengan metode tomografi transversal yang akan menghasilkan gambaran irisan melintang dengan hasil tampilan dalam skala algorithma
(Grey Scale) (J.Alexander)

2. Istilah-istilah lain CT - Scan

a. Computed / Computerized Tomography (CT)
b. Computed Axial Tomography (CAT)
c. Computerized Aided Tomography
d. Computerize Transverse Axial Tomography (CTAT)
e. Recontructive Tomography (RT)
f. Computed Transmission Tomography (CAT)
g. Ditetapkan oleh "Radiology and American Journal of Roentgenology" dengan istilah Computed Tomography (CT)

3. Ringkasan Sejarah perkembangan CT-Scan

a. 1917  -   J.H. Radon: transformasi radon, gambar dari objek yang tidak diketahui dapat digambarkan dari proyeksinya
b. 1963  -  A.M. Cormack: mengembangkan teknik untuk menentukan distribusi penyerapan tubuh manusia
c. 1972  -  G.N. Hounsfield dan J.Ambrose: menghasilkan gambaran CT pertama kali untuk keperluan klinis
d. 1974  -  60 unit CT terpasang untuk pemeriksaan kepala
e. 1975  -  First Whole Body scanner in clinical use
f.  1979  -  Hounsfield dan Cormack di anugerahi hadiah nobel
g. 1989  -  Spiral CT
h. 1998  -  Multislice CT
i.  2000  -   >30000 clinical CT Installations



4. Keunggulan CT-Scan

a. Memiliki kontras resolusi dan spatial resolusi yang tinggi
    kontras resolusi adalah kemampuan untuk membedakan dua objek yang memiliki densitas hampir sama.
    spatial resolusi adalah kemampuan untuk membedakan dua objek yang saling berdekatan letaknya
b. Hasil gambaran dapat direkontruksi sesuai kebutuhan, misalnya dari proyeksi axial dijadikan proyeksi sagital atau coronal
c. Gambaran jaringan lunak memiliki karakteristik yang baik dengan adanya pengaturan window
d. Hasil gambaran berupa irisan melintang ( cross sectional ) sehingga superposisi antar organ dapat dihindari
e. Diagnosa lebih akurat dengan adanya pengambilan gambaran dari berbagai proyeksi seperti proyeksi axial, sagital dan coronal.

5. Contoh gambar pesawat CT Scan dan Hasilnya
















( Pesawat CT - Scan )

















( Hasil gambaran CT - Scan )

Sejarah dan Perkembangan CT - Scan


Sejarah dan Perkembangan CT-Scan

1. Pengertian CT - Scan

a. Tomography (CT) adalah sinar-x dengan menggunakan teknik tomografi dimana berkas sinar-x menembus bagian tubuh pasien dari berbagai arah
(Marthis Prokap and Michael Galanski, 2003 Chapter 1, P : 2)
b. CT ( Computed Tomography ) merupakan alat diagnostik sinar-x dengan metode tomografi transversal yang akan menghasilkan gambaran irisan melintang dengan hasil tampilan dalam skala algorithma
(Grey Scale) (J.Alexander)

2. Istilah-istilah lain CT - Scan

a. Computed / Computerized Tomography (CT)
b. Computed Axial Tomography (CAT)
c. Computerized Aided Tomography
d. Computerize Transverse Axial Tomography (CTAT)
e. Recontructive Tomography (RT)
f. Computed Transmission Tomography (CAT)
g. Ditetapkan oleh "Radiology and American Journal of Roentgenology" dengan istilah Computed Tomography (CT)

3. Ringkasan Sejarah perkembangan CT-Scan

a. 1917  -   J.H. Radon: transformasi radon, gambar dari objek yang tidak diketahui dapat digambarkan dari proyeksinya
b. 1963  -  A.M. Cormack: mengembangkan teknik untuk menentukan distribusi penyerapan tubuh manusia
c. 1972  -  G.N. Hounsfield dan J.Ambrose: menghasilkan gambaran CT pertama kali untuk keperluan klinis
d. 1974  -  60 unit CT terpasang untuk pemeriksaan kepala
e. 1975  -  First Whole Body scanner in clinical use
f.  1979  -  Hounsfield dan Cormack di anugerahi hadiah nobel
g. 1989  -  Spiral CT
h. 1998  -  Multislice CT
i.  2000  -   >30000 clinical CT Installations

Teknik Radiografi Atlas dan Axis



Teknik Radiografi Atlas dan Axis (C1 dan C2)



1. Anatomi dari Atlas
Columna vertebralis cervicalis pertama (Atlas)
Dinamakan Atlas karena disamakan dengan dewa Yunani yang menahan tiang-tiang pancang surga, karena vertebrae cervicalis ke 1 ini menahan berat beban dari kepala. Bentuk nya menyerupai cincin yang berbeda dengan bentuk-bentuk dari columna vertebrae cervicalis yang lainnya  karena vertebrae cervicalis 1 ini tidak mempunyai corpus dan hanya mempunyai sebuah processus spinosus yang rudimeter.

(Untuk melihat gambar di bawah dengan jelas silahkan klik gambar tersebut)
















2. Anatomi dari Axis
Columna vertebralis cervicalis kedua (Axis)
Dinamakan Axis (axis artinya sebuah poros) karena processus odontoid bekerja sebagai poros dimana tengkorak berotasi mengelilingi atlas.

(Untuk melihat gambar di bawah dengan jelas silahkan klik gambar tersebut)



















Teknik Radiografi Atlas dan Axis (C1 dan C2)


Proyeksi AP (Open Mouth / Buka Mulut)


Ukuran Kaset : 18 x 24 cm memanjang
FFD : 90 cm
CR : Vertikal tegak lurus bidang kaset
CP : Pertengahan mulut hingga mulut terbuka


Posisi Pasien :

- Pasien di posisikan supine di atas meja pemeriksaan
- Letakkan pertengahan tubuh pada garis midline meja pemeriksaan
- Instruksikan kepada pasien untuk membuka mulut (Open Mouth) selebar mungkin. Untuk mempertahankan posisi ini sebaiknya menggunakan Spons
- Angkat dagu supaya gigi seri bagian atas terangkat keatas sehingga atlas dan axis bisa terlihat
- Instruksikan kepada pasien untuk mengucapkan kata " AH " selama eksposi, supaya lidah berada dibawah mulut, sehingga bayangan lidah tidak superposisi dengan atlas dan axis.
- Pastikan selama eksposi pasien tidak bergerak dan mengikuti instruksi
- Gunakan marker R / L sebagai penanda objek sebelah kanan atau kiri
- Lindungi area gonad pasien dari radiasi hambur dengan menggunakan karet dari timbal atau apron


















(untuk memperjelas gambaran di atas, silahkan klik gambar tersebut)


Kriteria gambar :

- Terlihat jelas atlas dan axis pada proyeksi AP (Open Mouth)
- Terlihat jelas Processus Odontoid pada C1 dan C2
- Mandibula dan maxilla superposisi
- Jika dagu tidak diangkat dengan cukup, maka gigi akan superposisi dengan processus odontoid
- Jika dagu diangkat terlalu tinggi, maka mandibula superposisi dengan processus odontoid
- Struktur yang tergambar : Atlas, Axis, Processus odontoid (Dens), dan Articulatio C1 dan C2
- Tampak marker R / L sebagai penanda sebelah kiri atau kanan





















(untuk memperjelas gambaran di atas, silahkan klik gambar tersebut)




Proyeksi Alternatif yaitu menggunakan proyeksi dengan " METODE FUTCH "


Metode Futch yaitu dimana odontoid dan foramen magnum terlihat atau tampak, dengan cara pasien diposisikan supine pada meja pemeriksaan dan meletakkan pertengahan tubuh pada garis tengah meja pemeriksaan, kemudian angkat dagu pasien dan pusatkan arah sinar atau CP pada pertengahan dagu dan arahkan sinar atau CR vertikal tegak lurus kaset


Kesimpulan

Untuk memperoleh gambaran dari atlas dan axis pada metode " Open Mouth " yaitu dengan membuka mulut pasien seluas-luasnya (atau maksimal) kemudian angkatlah dagu pasien semaksimal mungkin. Selain itu terdapat juga metode alternatif untuk melihat dengan jelas gambaran dari atlas dan axis yaitu dengan menggunakan " METODE FUTCH " , metode futch di khususkan untuk memperlihatkan odontoid dan foramen magnum 





back to top