Percobaan Macroradiografi pada Sella Tursica


 A. Percobaan Macroradiografi

Judul Percobaan :
Teknik macroradiografi pada Sella Tursica

Tujuan Percobaan :
untuk mendapatkan gambaran radiografi dari Sella Tursica tampak lebih besar dari gambaran radiografi biasa

Alat dan Bahan :


-          Pesawat Rontgen Shimadtzu 500 mA
-          Kaset 18 x 24 cm
-          Film  18 x 24 cm
-          Marker R/L
-          Panthom sebagai objek
-          Cairan developer
-          Cairan Fixer
-          Air

B. Prosedur Pemeriksaan

Pemeriksaan Sella Tursica

1. Teknik macroradiografi
  
Teknik menjauhkan jarak objek - film (OFD) dilakukan untuk pembesaran 2 kali



2. Teknik radiografi


·      Pasien diposisikan semi prone di atas meja pemeriksaan
·      MSP tubuh sejajar dengan bidang film
·      Kepala diposisikan lateral, dengan menempatkan : MSP kepala sejajar bidang film dan garis interpupilary tegak lurus bidang film
·      Atur kedua bahu agar berada pada bidang transversal yang sama
·      Atur kepala sehingga garis IOML sejajar dengan garis khayal horizontal film
·      Atur CR Tegak lurus bidang film
·      Central point 2,5 cm anterior dan 2,5 cm superior dari MAE.

 3. Teknik Pembesaran



·    Atur jarak focus ke objek (FOD) : 80 cm
·    Letakkan kaset diatas lantai sehingga jarak antara film dan objek pada meja pemeriksaan (OFD)  80 cm dan jarak antara fokus film (FFD) menjadi 160 cm.
·    Atur supaya sentrasi sinar tepat berada tengah kaset.

M = FFD = 160  = 2 , Jadi, M = 2 ( 2x Pembesaran )
       OFD     80

 4. Faktor Eksposi



Pada pemeriksaan Sella Tursica dengan Faktor Eksposi normal adalah 60 kV dan 20 mAs, maka pada pembesaran 2x , faktor eksposinya menjadi :
FFD12  =  mAs12
FFD22      mAs22

                    802      =    202
                   1602          mAs22

       mAs22 =   25600 x 400
                                         6400

                     mAs22 =   √1600
                     mAs22 =   40

  Jadi, Untuk pemebesaran 2x pemakaian faktor eksposinya adalah 60 kV dan 40 mAs




5. Procesisng film


·      Developing       = 3 menit
·      Rinsing             = 20 detik
·      Fixing               = 4 menit
·      Washing           = 20 detik
·      Drying              = 5 menit

 6. Hasil gambaran


·        Tampak Sella Tursica proyeksi lateral dengan pembesaran 1.5 x pada film
·        Dorsum sellae dan clivus blumenbachi
·        Processus clinoideus anterior kiri dan kanan superposisi
·        Processus clinoideus posterior kiri dan kanan superposisi
·        Detail gambaran baik
·        Densitas dan kontras gambaran radiografi yang dihasilkan baik
·        Tampak marker R
·        Tampak label

Percobaan Macroradiografi pada Sella Tursica


 A. Percobaan Macroradiografi

Judul Percobaan :
Teknik macroradiografi pada Sella Tursica

Tujuan Percobaan :
untuk mendapatkan gambaran radiografi dari Sella Tursica tampak lebih besar dari gambaran radiografi biasa

Alat dan Bahan :


-          Pesawat Rontgen Shimadtzu 500 mA
-          Kaset 18 x 24 cm
-          Film  18 x 24 cm
-          Marker R/L
-          Panthom sebagai objek
-          Cairan developer
-          Cairan Fixer
-          Air

B. Prosedur Pemeriksaan

Pemeriksaan Sella Tursica

1. Teknik macroradiografi
  
Teknik menjauhkan jarak objek - film (OFD) dilakukan untuk pembesaran 2 kali



2. Teknik radiografi


·      Pasien diposisikan semi prone di atas meja pemeriksaan
·      MSP tubuh sejajar dengan bidang film
·      Kepala diposisikan lateral, dengan menempatkan : MSP kepala sejajar bidang film dan garis interpupilary tegak lurus bidang film
·      Atur kedua bahu agar berada pada bidang transversal yang sama
·      Atur kepala sehingga garis IOML sejajar dengan garis khayal horizontal film
·      Atur CR Tegak lurus bidang film
·      Central point 2,5 cm anterior dan 2,5 cm superior dari MAE.

 3. Teknik Pembesaran



·    Atur jarak focus ke objek (FOD) : 80 cm
·    Letakkan kaset diatas lantai sehingga jarak antara film dan objek pada meja pemeriksaan (OFD)  80 cm dan jarak antara fokus film (FFD) menjadi 160 cm.
·    Atur supaya sentrasi sinar tepat berada tengah kaset.

M = FFD = 160  = 2 , Jadi, M = 2 ( 2x Pembesaran )
       OFD     80

 4. Faktor Eksposi



Pada pemeriksaan Sella Tursica dengan Faktor Eksposi normal adalah 60 kV dan 20 mAs, maka pada pembesaran 2x , faktor eksposinya menjadi :
FFD12  =  mAs12
FFD22      mAs22

                    802      =    202
                   1602          mAs22

       mAs22 =   25600 x 400
                                         6400

                     mAs22 =   √1600
                     mAs22 =   40

  Jadi, Untuk pemebesaran 2x pemakaian faktor eksposinya adalah 60 kV dan 40 mAs




5. Procesisng film


·      Developing       = 3 menit
·      Rinsing             = 20 detik
·      Fixing               = 4 menit
·      Washing           = 20 detik
·      Drying              = 5 menit

 6. Hasil gambaran


·        Tampak Sella Tursica proyeksi lateral dengan pembesaran 1.5 x pada film
·        Dorsum sellae dan clivus blumenbachi
·        Processus clinoideus anterior kiri dan kanan superposisi
·        Processus clinoideus posterior kiri dan kanan superposisi
·        Detail gambaran baik
·        Densitas dan kontras gambaran radiografi yang dihasilkan baik
·        Tampak marker R
·        Tampak label

umbul umbul radiologi - mengetes ke aslian uang ( Jokes )



Mengetes uang Rp 100.000 - Rp.50.000 dan Rp. 20.0001.

Lipat menjadi 4 bagian secara simetris memanjang

2.Tekan uang tersebut dengan perasaan secukupnya

3. Buka perlahan-lahan lipatan uang tsb

4. Bila kacamata Bung Hatta,WR Supratman atau Ki Hajar pecah berarti palsu

5. Khusus 50.000 an, periksa teks lagunya, kalau bukan Indonesia raya pasti palsu





Mengetes uang Rp. 10.000

1. Lipat menjadi 4 bagian secara memanjang

2. Tekan uang tersebut dengan tekanan secukupnya

3. Kalau uangnya jadi basah karena kawahnya tumpah atau kalau konde Cut Nyak Dien lepas berarti palsu





Untuk uang Rp. 5.000

1. Ambil sisir rambut di rumah, kemudian gesekkan pada uang tersebut.

2. Apabila jenggot Imam Bonjol rontok berarti palsu. Apabila tambah panjang berarti palsu juga!!





Untuk ngetes palsu-tidaknya Rp. 1.000 Cari SD Negeri terdekat, cukup taruh di trotoar depan sekolah, kalau hilang berarti asli....





Uang Rp. 500 an kertas agak susah dites, karena anak-anak SD aja sudah nyuekin, satu-satunya cara adalah remes kenceng2, kalau monyetnya teriak berarti palsu.

umbul umbul radiologi - mengetes ke aslian uang ( Jokes )



Mengetes uang Rp 100.000 - Rp.50.000 dan Rp. 20.0001.

Lipat menjadi 4 bagian secara simetris memanjang

2.Tekan uang tersebut dengan perasaan secukupnya

3. Buka perlahan-lahan lipatan uang tsb

4. Bila kacamata Bung Hatta,WR Supratman atau Ki Hajar pecah berarti palsu

5. Khusus 50.000 an, periksa teks lagunya, kalau bukan Indonesia raya pasti palsu





Mengetes uang Rp. 10.000

1. Lipat menjadi 4 bagian secara memanjang

2. Tekan uang tersebut dengan tekanan secukupnya

3. Kalau uangnya jadi basah karena kawahnya tumpah atau kalau konde Cut Nyak Dien lepas berarti palsu





Untuk uang Rp. 5.000

1. Ambil sisir rambut di rumah, kemudian gesekkan pada uang tersebut.

2. Apabila jenggot Imam Bonjol rontok berarti palsu. Apabila tambah panjang berarti palsu juga!!





Untuk ngetes palsu-tidaknya Rp. 1.000 Cari SD Negeri terdekat, cukup taruh di trotoar depan sekolah, kalau hilang berarti asli....





Uang Rp. 500 an kertas agak susah dites, karena anak-anak SD aja sudah nyuekin, satu-satunya cara adalah remes kenceng2, kalau monyetnya teriak berarti palsu.

UGD Radiologi ( Unit Gawat Darurat Radiologi )





T
rauma Radiologi adalah suatu jenis pemeriksaan radiologi yang mana ditujukan bagi seorang radiografer untuk dapat membuat gambaran sebaik dan sejelas mungkin dari pasien – pasien trauma yang kebanyakan tidak kooperatif dalam menjalankan pemeriksaan rontgen. Trauma Radiologi yang biasa dijumpai pada bagian Instalasi Gawat Darurat sebuah rumah sakit dapat menjadi sebuah pilihan lingkungan pekerjaan yang menarik dan menantang bagi seorang radiografer. Namun ,tidak dapat dipungkiri juga kasus – kasus trauma radiologi pun dapat menjadi sebuah pekerjaan radiografi yang menakutkan atau bahkan membuat pusing kepala. Perbedaan teknik pemeriksaan yang harus dilakukan terhadap  pasien yang bukan kasus trauma dengan pasien yang mengalami kasus trauma amat bergantung pada persiapan seorang radiografer dalam menangani situasi tersebut. Tanggung jawab dalam penatalaksanaan pemeriksaan kasus trauma radiologi ini menjadi sesuatu yang tak dapat disepelekan oleh seorang radiografer.
Kasus trauma dapat terjadi pada semua rentang usia. Trauma dapat diartikan sebagai sebuah kejadian tiba – tiba ,yang tak terduga dan terjadi secara cepat. Sumber kasus trauma di Amerika  ,National Trauma DataBase menyebutkan bahwa sekitar 1.1 juta kasus trauma tercatat sepanjang  periode tahun 2004. Dengan rentang usia pasien antara 0 tahun sampai 85 tahun .Dengan catatan kasus paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalulintas. Pasien- pasien yang sering ditemukan sudah dalam kondisi yang tidak sadarkan diri dan tentunya memerlukan penanganan penuh dari seorang tenaga medis yang dalam hal ini adalah kita sebagai seorang radiografer. 

Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE ) 




Berikut ini ialah beberapa hal penting yang harus dipahami dan dimengerti oleh seorang radiografer dalam menangani kasus – kasus trauma radiologi.
1)      Waktu
Waktu menjadi sebuah asset yang amat berharga ,khususnya dalam menangani kasus pasien trauma. Namun bukan berarti pemeriksaan tersebut dilaksanakan dengan asal- asalan dan seenaknya saja. Pemeriksaan ini dimaksudkan sesegera dan secepat mungkin ,mengingat kondisi pasien yang tentunya membutuhkan penanganan lebih lanjut sesudah dirontgen.

2)      Pemposisian Pasien dan Objek
Bertindak hati – hati dalam pemposisian pasien trauma menjadi hal utama yang harus diperhatikan,mengingat kondisi tubuh pasien yang tentunya tidak sebaik yang kita duga. Sebisa mungkin posisikan secara maksimal kemampuan tube dan kaset dalam pemposisiannya daripada kita hanya terfokus pada pemposisian organ tubuh pasien yang kondisinya akan sulit untuk diatur.

3)      Proteksi Radiasi
Hal penting yang harus selalu diingat juga oleh seorang radiografer pasien trauma ialah proteksi radiasi yang mencakup pasien trauma tersebut ,si radiografer itu sendiri beserta tenaga medis lainnya yang berada pada area pemeriksaan sinar X tersebut. Contoh – contoh proteksi radiasi tersebut antara lain :
-          Gunakan kolimasi secukupnya pada batas area objek yang akan dirontgen saja.
-          Memastikan tenaga medis dan orang – orang di sekitar pasien harus dievakuasi sementara saat adanya eksposi. Dan bila diharuskan adanya orang lain di sekitar pasien , maka seorang radiografer pasien trauma tersebut harus melindungi orang tersebut dengan menggunakan apron

Radiografer pasien trauma sangat dituntut terampil dan cekatan dalam menangani pasien dengan tetap menghasilkan gambaran radiografi dengan kualitas terbaik. Gambaran harus dapat memberikan informasi sebanyak – banyaknya mengenai kondisi pasien guna penanganan medis lebih lanjut. Di samping itu seorang radiografer pun tidak boleh acuh atau bersikap cuek bila menangani kasus kasus trauma. Tetap bertanggung jawab dalam memperhatikan pasien tersebut dan selalu memberi penanganan terbaik layaknya menangani pasien bukan trauma.

Tertarik menjadi radiografer pasien trauma di UGD  ????


Dariberbagai sumber

 


back to top