Tampilkan postingan dengan label Teknik Radiografi Bahan Kontras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Radiografi Bahan Kontras. Tampilkan semua postingan

ANATOMI RADIOLOGI I

Sialografi
Suatu teknik pemeriksaan radiografi untuk melihat saluran – saluran kelenjar ludah. Saluran ini  bercabang – cabang  yang membawa air liur disalurkan ke dalam mulut.
Kelenjar ludah ada 3 pasang :
1.       Kelenjar Parotis, klenjar yang lebih besar, ada disebelah kana dan kiri. Letaknya dibawah telinga.
2.       Kelenjar Submandibular ( Submaxiller ), kelenjar ini letaknya dibawah tulang mandibular.
3.       Kelenjar sublinguali berada dibawah lidah atau didasar mulut.

Kelenjar  Parotis terdiri dari 2 bagian yang berada di bagian luar permukaan (bagian yang pertama  super ficial ), letaknya disebelah bawah kulit dan sedikit ke depan dari daun telinga ( akan lebih jelas kalau membesar ) biasanya terjadi peradangan ( parotitis epidemica penyakit ini biasanya terjadi pada anak – anak ), bagian yang kedua adalah propundac atau disebut retro mandibular, letaknya dari bagian retro mandibular meluas kea rah medial hingga berada di dinding faring.
Hasil produksinya disalurkan dimuarakan pada ductus stensen  

Kelenjar Submandibularis
Letaknya dibawah mandibular bentuknya irregular nama saluranya ductus Warthon

Kelenjar Sublingual
Merupakan kumpulan dari kelenjar – kelenjar kecil. Bentuknya tipis dan memanjang disepanjang bawah lidah. Letaknya di dasar mulut. Bagian belakangnya berdekatan dengan kelenjar submandibular. Saluran – salurannya  banyak dan pendek atau kecil dan akan bermuara membentuk suatu saluran yang lebih besar yang disebut Ductus Rivinus . Terkadang ductus tersebut juga bermuara dalam ductus warthon yang dinamakan Ductus Bartolin.

Terdapat otot disebelah belakang kelenjar parotis yang panjang dimulai dari sternum sampai mastoid ( berjalan di sepanjang  leher kiri ) yang disebut Musculus Stenokledomastoidea.
Pada dasar mulut terdapat 3 pasang otot :
1.       Otot paling luar ( berada pada dasar mulut ) dinamakan musculus digastric.
2.       Otot sebelah medial dinamakan musculus geniohyoid.
3.       Otot yang paling tengah ( paling besar ) dinamakan Musculus mylohyoid.               
            Penulis : Hendra mulia
p
pe
 p


ANATOMI RADIOLOGI I

Sialografi
Suatu teknik pemeriksaan radiografi untuk melihat saluran – saluran kelenjar ludah. Saluran ini  bercabang – cabang  yang membawa air liur disalurkan ke dalam mulut.
Kelenjar ludah ada 3 pasang :
1.       Kelenjar Parotis, klenjar yang lebih besar, ada disebelah kana dan kiri. Letaknya dibawah telinga.
2.       Kelenjar Submandibular ( Submaxiller ), kelenjar ini letaknya dibawah tulang mandibular.
3.       Kelenjar sublinguali berada dibawah lidah atau didasar mulut.

Kelenjar  Parotis terdiri dari 2 bagian yang berada di bagian luar permukaan (bagian yang pertama  super ficial ), letaknya disebelah bawah kulit dan sedikit ke depan dari daun telinga ( akan lebih jelas kalau membesar ) biasanya terjadi peradangan ( parotitis epidemica penyakit ini biasanya terjadi pada anak – anak ), bagian yang kedua adalah propundac atau disebut retro mandibular, letaknya dari bagian retro mandibular meluas kea rah medial hingga berada di dinding faring.
Hasil produksinya disalurkan dimuarakan pada ductus stensen  

Kelenjar Submandibularis
Letaknya dibawah mandibular bentuknya irregular nama saluranya ductus Warthon

Kelenjar Sublingual
Merupakan kumpulan dari kelenjar – kelenjar kecil. Bentuknya tipis dan memanjang disepanjang bawah lidah. Letaknya di dasar mulut. Bagian belakangnya berdekatan dengan kelenjar submandibular. Saluran – salurannya  banyak dan pendek atau kecil dan akan bermuara membentuk suatu saluran yang lebih besar yang disebut Ductus Rivinus . Terkadang ductus tersebut juga bermuara dalam ductus warthon yang dinamakan Ductus Bartolin.

Terdapat otot disebelah belakang kelenjar parotis yang panjang dimulai dari sternum sampai mastoid ( berjalan di sepanjang  leher kiri ) yang disebut Musculus Stenokledomastoidea.
Pada dasar mulut terdapat 3 pasang otot :
1.       Otot paling luar ( berada pada dasar mulut ) dinamakan musculus digastric.
2.       Otot sebelah medial dinamakan musculus geniohyoid.
3.       Otot yang paling tengah ( paling besar ) dinamakan Musculus mylohyoid.               
            Penulis : Hendra mulia
p
pe
 p


Teknik Radiografi Duktulografi

DUKTULOGRAFI








1. Pengertian Duktulografi
Modalitas pencitraan sinar-x untuk mengevaluasi lumen duktus laktiferus dengan cara memasukan bahan kontras secara retrograde melalui kanula yang dipasang di papila mamae.

2. Anatomi

 

  • 15 - 20 lobus tersusun radial mengelilingi papila mamae
  • tiap lobus bermuara ke duktus laktiferus utama 


TDLU (Terminal Duktal-Lobular Unit)
Acinus
Ductule
Intralobular terminal ducts
Ekstralobular terminal ducts

Multipel TDLU ---> Lobus




 Nipple Discharge
  • Nipple discharge merupakan masalah penting bagi para wanita
  • Paling sering ec. benign intraductal papilloma
  • Carcinoma --> 10 - 15 %

Nipple Discharge fisiologis
  • Neonatal period
  • Laktasi
  • Kehamilan
  • Post Laktasi
  • Post stimulasi mekanis
  • Hyperprolactinaemia 

3. Indikasi
  • Evaluasi pada wanita yang mengalami nipple discharge spontan cairan dari papila mamae baik bloody maupun serous discharge  terutama bila unilateral dan berasal dari 1 orificium
  • Mappung untuk dokter bedah tumor dalam melakukan tindakan selanjutnya
  • Menemukan lesi yang tidak terlihat pada pemeriksaan Mammografi, USG dan MRI



4. Kontraindikasi 
  • Bilateral
  • Multipel ducts
  • Warna menyerupai darah

5. Keterbatasan 
     duktulografi tidak dapat dilakukan apabila tidak ada discharge pada saat pemeriksaan akan dikerjakan

6. Teknik Pemeriksaan
  • Amati lokasi orificium dimana nipple discharge berasal
  • Nipple areolar complex dibersihkan dengan larutan antiseptik
  • Mamae di beri duk steril
  • Sedikit discharge dikeluarkan sampai orificium duktus terlihat
  • Cannula diisi water-soluble radiographic contrast
  • Usahakan mengeluarkan udara dari kateter
  • Canula dipasang dengan hati-hati supaya tidak masuk ke dinding duktus laktiferus dan menimbulkan ekstravasasi
  • Kontras sebanyak 0.1 - 3 cc di injeksikan, tergantung pada jumlah secondary ducts yang mengalir ke duktus laktiferus utama dan lebarnya dilatasi

7. Gambaran Radiologi

A. gambaran normal


 a. Dikotomi lumen duktus laktiferus yang terisi kontras terlihat baik
 b. Tidak tampak filling defect
 c. Dinding lumen reguler
 d. Tidak terlihat beading appearance, angulasi, atau pengecilan kaliber lumen dengan tiba- tiba







B. gambaran kesalahan teknik



A
  
                     (b)                                             (c)
                                                                                                

Keterangan :
a : Refluks
b : Ekstravasasi
c : Air bubble


8. Patologis 
    Sebagian besar kelainan intraduktal dengan nipple discharge ditemukan 1 -  4 cm dari papilla mamae, meliputi :
  • Duct  ectasia
         a. Pelebaran duktus laktiferus dapat sampai tortuosus
         b. Dapat terlihat filling defect akibat sekret
         c. Dilatasi berbentuk kistik terutama di area subareolar yang membentuk contrast fluid level
         d. Kaliber dapat melebar sampai 8 mm di sertai dengan ebading appearance



DUCT ECTASIA

 * Wanita 40 tahun dengan serous right nipple discharge
 * Pelebaran subareolar collecting ducts dan segmental ducts
 * Dilatasi berbentuk kistik (panah)
 * Di posterior regio subareolar terlihat cabang-cabang kecil duktus
 * Tidak terlihat filling defect intralumen






 Cystic Duct Ectasia

* Spontaneous serous left nipple discharge
* Pelebaran collecting duct dan segmental ducts di area subareolar
* Pengisian kista-kista kecil oleh kontras membentuk fluid level
* Tidak terlihat filling defect intralumen









  • Duct  papilloma










Filling defect berlobulasi didalam duktus
 (kiri) Galactography
 (kanan) USG

 a. Defect soliter biasanya disebabkan papilloma intraductal
 b. Paling sering di jumpai di dekat nipple -areolar complex
 c. Hou et al. menemukan 88 dari 113 (77.9%) lesi intraductal jinak terletak di duktus laktiferus utama
 d. Tepi papilloma biasanya bulat atau berlobulasi
 e. Bila ukurannya besar dapat mengobstruksi duktus laktiferus
 f. Papillomatosis ---> filling defect kecil multipel membentuk gambaran iregularitas dinding lumen duktus















  • Breast Cancer
* Terlihat pelebaran duktus di area subareolar* Multipel area dengan penyempitan kaliber (A) serta filling defect ireguler (panah B)* Terhentinya kontras tiba-tiba mengisi lumen duktus


Teknik Radiografi Duktulografi

DUKTULOGRAFI








1. Pengertian Duktulografi
Modalitas pencitraan sinar-x untuk mengevaluasi lumen duktus laktiferus dengan cara memasukan bahan kontras secara retrograde melalui kanula yang dipasang di papila mamae.

2. Anatomi

 

  • 15 - 20 lobus tersusun radial mengelilingi papila mamae
  • tiap lobus bermuara ke duktus laktiferus utama 


TDLU (Terminal Duktal-Lobular Unit)
Acinus
Ductule
Intralobular terminal ducts
Ekstralobular terminal ducts

Multipel TDLU ---> Lobus




 Nipple Discharge
  • Nipple discharge merupakan masalah penting bagi para wanita
  • Paling sering ec. benign intraductal papilloma
  • Carcinoma --> 10 - 15 %

Nipple Discharge fisiologis
  • Neonatal period
  • Laktasi
  • Kehamilan
  • Post Laktasi
  • Post stimulasi mekanis
  • Hyperprolactinaemia 

3. Indikasi
  • Evaluasi pada wanita yang mengalami nipple discharge spontan cairan dari papila mamae baik bloody maupun serous discharge  terutama bila unilateral dan berasal dari 1 orificium
  • Mappung untuk dokter bedah tumor dalam melakukan tindakan selanjutnya
  • Menemukan lesi yang tidak terlihat pada pemeriksaan Mammografi, USG dan MRI

Teknik Pemeriksaan Sialography

SIALOGRAFI

1. Pengertian Pemeriksaan Sialografi
    Pemeriksaan Sialografi adalah Pemeriksaan radiografi dari kelenjar ludah dan salurannya (sistem salivari) dengan penyuntikan bahan kontras media positif, dengan pemeriksaan sialografi juga dapat diketahui struktur anatomi dan fisiologis nya.

2. Anatomi







  • Fungsi Glandula adalah untuk memproduksi saliva dengan komposisi 99% air dan 1% fermen ptialin . masing-masing glandula dihubungkan dengan saluran ductus defferent
  • Fungsi Saliva adalah untuk Membasahi makanan sehingga mudah untuk ditelan

Kelenjar ludah di bagi 3 :
  1. Glandula Parotis ( Stenson's Duct )
  • letaknya dibelakang angulus mandibula dan di bawah telinga
  • merupakan kelenjar ludah yang terbesar pertama
  • terdiri dari 2 buah (sepasang)
  • bagian superfisial (atas) terletak di bawah MAE dan overlap dengan ramus mandibula dan processus mastoideus
     2.  Glandula sub mandibularis (Wharton's Duct)
  • terletak di bagian bawah tengah dari rahang bawah (mandibula) atau di bawah korpus kanan dan kiri dan bermuara di sekitar molar 1
  • terdiri dari 2 buah (sepasang)
  • merupakan kelenjar ludah terbesar kedua 

     3.  Glandula sub lingualis
  • terletak di bawah lidah
  • merupakan kelenjar ludah terkecil
  • bentuk nya seperti buah kenari tetapi permukaannya tidak rata
  • terdiri dari 2 buah (sepasang)
  • kelenjar bagian superior berhubungan dengan membran mukosa myelohyoid
  • bagian anterior nya terdapat 2 ductus, yaitu ductur mayor (ductus bartolins) dan ductus minor (ductus rivinus)

3. Indikasi Pemeriksaan
  • Sialolith adalah adanya batu pada kelenjar ludah , sangat sering ditemukan pada kelenjar sub mandibularis
  • Sialitis Cronis adalah peradangan pada kelenjar ludah
  • Sialektasis adalah  pelebaran pada saluran kelenjar ludah
  • Diverticulitis adalah peradangan pada kantung-kantung yang terbentuk di dinding kelenjar ludah yang menonjol keluar
  • Neoplasma adalah tumor pada kelenjar ludah 

4. Kontra Indikasi Pemeriksaan
    adanya peradangan pada mulut karena peradangan tersebut dapat menyebar



5. Komplikasi
  • adanya rasa sakit karena terjadi over filling ( pengisian melebihi kapasitas kelenjar itu sendiri )
  • terjadi ruptur dari kelenjar lidah biasanya terjadi pada saat melebarkan kelenjar ludah dengan dilator 

6. Persiapan pasien
 
  • Tidak ada persiapan khusus terhadap pasien dan tidak perlu premedikasi
  • Memberikan penjelasan pada pasien tentang jalannya pemeriksaan 

7. Teknik Radiografi


    Foto Polos

  • Posisi AP 
          Kepala sedikit di rebahkan dan central point (CP) pada glabella
  • Posisi Lateral
           Posisi kepala sama dengan posis kepala pada umumnya dengan central point pada Angulus mandibula
  • Posisi Lateral Oblique
          dari posisi lateral kepala OS dirotasikan sedikit sehingga dagu nya merapat pada film (20 derajat dari               meja pemeriksaan dengan central ray 20 derajat cranially dan centra point pada angulus mandibula


8. Peralatan


Alat Steril
  • Salivary duct dilator (untuk melebarkan permukaan atau muara dari kelenjar ludah
  • Lacrimale duct canule atau kateter
  • Adaptor, untuk menghubungkan alat suntik dengan lacrimale duct canule
  • Spuit 2 cc 1 buah, Spuit 4 cc 1 buah
  • Handuk dan kain kass
Alat Unsteril
  • Ampul Kontras Media
  • lemon / jeruk nifis
  • bengkok, plester
  • gergaji ampul dan lampu sorot


















gambar peralatan Sialography


9. Teknik Pemeriksaan 
  • Pasien tidur supine dan dibuat foto plain : Cranium AP dan Lateral
  • Pasien di beri pastiles untuk merangsang air liur keluar
  • Melalui keluar nya air liur dimasukan spuit sialo dan di hubungkan dengan kateter dan diplester ke kulit
  • Ujung kateter di hubungkan dengan spuit yang berisi media kontras
  • Media kontras di suntikan selanjutnya di lakukan pemotretan
  • Setelah selesai pemeriksaan pasien diberi minum asam supaya semua kontras media terangsang ke luar
 A. Proyeksi Pemotretan
      * Proyeksi Tangensial (untuk melihat kelenjar parotis)
  • Pasien tidur telentang atau duduk
  • Kelenjar parotis diletakan pada pertengahan kaset 
  • Posisi Objek :
  • Kepala di posisikan pada posisi true AP
  • Kepala dimiringkan ke posisi yang tidak diperiksa
  • Kelenjar parotis tegak lurus pada film dan occipitale rapat atau menempel pada film
  • Central ray : tegak lurus pada film
  • Central point : pada ramus bagian luar
          Kriteria Gambar :
  • Terlihat jaringan lunak 
  • Kelenjar parotid terlihat pada posisi lateral
  • Terlihat ductus stensen
  • Mastoid overlaping dengan bagian atas dari kelenjar parotid
     
      * Proyeksi Lateral (Untuk melihat kelenjar parotis dan kelenjar submaksilaris)

        # Posisi untuk kelenjar parotis ( menggunakan kaset 18 x 24 cm )
  • Kepala pada posisi true lateral
  • Pertengahan film berada diatas angulus mandibula
  • Kepala di atur sedemikan rupa dan MSP di rotasikan ke arah anterior sebesar 15 derajat dari posisi lateral
  • Central ray : tegak lurus pada film
  • Central point : pada angulus sebelah luar 
          Kriteria Gambar :
  • Tampak kelenjar parotid superposisi di atas ramus mandibula
  • Ramus mandibula tidak terlihat overlapping dengan CV

        # Posisi untuk kelenjar submaksilaris ( menggunakan kaset 18 x 24 cm )
  • Kepala di posisikan true lateral di atas kaset
  • Pertengahan film tepat pada  margo inferior angulus mandibula
  • Central ray : tegak lurus pada film
  • Centra point : pada angulus mandibula sebelah luar
          Kriteria Gambar :
  • Tampak kedua ramus dan angulus mandibula superposisi
  • Kelenjar submaksilaris berada pada ramus dan angulus yang superposisi tersebut

        # Posisi untuk kelenjar maksila dan sublingual (Proyeksi Intra Oral)
     
        ## Posisi Supine
  • Posisi pasien supine --> submento vertikal
  • Kepala di ekstensikan penuh
  • Menggunakan film oclusal
  • Film di beri marker
  • Film di pasang melintang di dalam mulut
  • Ujung film pada mulut rapat pada margo anterior dari ramus mandibula
  • Central ray : Tegak lurus pada film
  • Centra point : pada MSP yang menghubungkan kedua molar 2
          Kriteria Gambar :
  • Terlihat soft tissue dari dasar mulut
  • Tampak kelenjar sub lingual dan ductus
  • Tampak kelenjar submaksila pada anterior medial 
         ## Posisi Lateral
  • Pasien diposisikan prone selanjutnya diposisikan oblique
  • Daerah sekitar angulus yang diperiksa rapat dengan film
  • MSP kepala sejajar film
  • IOML tegak lurus film
  • Central ray : tegak lurus pada film
  • Centra point : Pada angulus mandibula luar
          Kriteria Gambar :
  • Tampak kelenjar ludah berada pada angulus mandibula
  • Tampak mandibula, maksila, dan gigi geligi

        ## Posisi Eishler
  • Pasien diposisikan tidur semi prone
  • Kepala di atur sehingga daerah korpus berada pada pertengahan kaset
  • Kepala ditengahdakan agar kelenjar parotis rapat dengan film
  • Central ray : 25 derajat cephalad
  • Centra point : di bawah angulus mandibula yang luar
          Kriteria Gambar :
  • Tampak duktus dan kelenjar parotis overlaping dengan mandibula dan CV. Cervical


11. Hasil Gambaran Pemeriksaan Sialography






 - - Cafe Radiologi - -

Teknik Pemeriksaan Sialography

SIALOGRAFI

1. Pengertian Pemeriksaan Sialografi
    Pemeriksaan Sialografi adalah Pemeriksaan radiografi dari kelenjar ludah dan salurannya (sistem salivari) dengan penyuntikan bahan kontras media positif, dengan pemeriksaan sialografi juga dapat diketahui struktur anatomi dan fisiologis nya.

2. Anatomi







  • Fungsi Glandula adalah untuk memproduksi saliva dengan komposisi 99% air dan 1% fermen ptialin . masing-masing glandula dihubungkan dengan saluran ductus defferent
  • Fungsi Saliva adalah untuk Membasahi makanan sehingga mudah untuk ditelan

Kelenjar ludah di bagi 3 :
  1. Glandula Parotis ( Stenson's Duct )
  • letaknya dibelakang angulus mandibula dan di bawah telinga
  • merupakan kelenjar ludah yang terbesar pertama
  • terdiri dari 2 buah (sepasang)
  • bagian superfisial (atas) terletak di bawah MAE dan overlap dengan ramus mandibula dan processus mastoideus
     2.  Glandula sub mandibularis (Wharton's Duct)
  • terletak di bagian bawah tengah dari rahang bawah (mandibula) atau di bawah korpus kanan dan kiri dan bermuara di sekitar molar 1
  • terdiri dari 2 buah (sepasang)
  • merupakan kelenjar ludah terbesar kedua 

     3.  Glandula sub lingualis
  • terletak di bawah lidah
  • merupakan kelenjar ludah terkecil
  • bentuk nya seperti buah kenari tetapi permukaannya tidak rata
  • terdiri dari 2 buah (sepasang)
  • kelenjar bagian superior berhubungan dengan membran mukosa myelohyoid
  • bagian anterior nya terdapat 2 ductus, yaitu ductur mayor (ductus bartolins) dan ductus minor (ductus rivinus)

3. Indikasi Pemeriksaan
  • Sialolith adalah adanya batu pada kelenjar ludah , sangat sering ditemukan pada kelenjar sub mandibularis
  • Sialitis Cronis adalah peradangan pada kelenjar ludah
  • Sialektasis adalah  pelebaran pada saluran kelenjar ludah
  • Diverticulitis adalah peradangan pada kantung-kantung yang terbentuk di dinding kelenjar ludah yang menonjol keluar
  • Neoplasma adalah tumor pada kelenjar ludah 

4. Kontra Indikasi Pemeriksaan
    adanya peradangan pada mulut karena peradangan tersebut dapat menyebar

Teknik Radiografi Fistulografi Interna

FISTULOGRAFI INTERNA

1. Pengertian 


  • Fistulografi adalah pemeriksaan radiografi untuk menunjukan lokasi, luas, dan panjang dari fistula ( saluran abnormal yang biasanya diantara dua organ.
  • Fistulografi Interna adalah pemeriksaan radiografi untuk menunjukan lokasi, luas, dan panjang dari fistula yang menghubungkan dua organ tubuh bagian dalam

2. Tujuan pemeriksaan

untuk melihat dan menunjukan lokasi, luas, dan panjang dari fistula didalam tubuh

3. Indikasi Pemeriksaan


  • adanya penyakit kronik
  • infeksi anatomi post operasi
  • carcinoma
  • diverticulitis
  • cacat bawaan (kelainan kongenital)


4. Kontra indikasi 


  • infeksi berat pada fistula yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat
  • alergi pada bahan kontras


5. Bahan dan Alat yang dibutuhkan 


  • Spuit 20 cc
  • Introducer
  • sarung tangan
  • kain kasa steril
  • ampul bahan
  • media kontras
  • bengkok
  • alcohol atau betadine
  • penggaris timbal

6. Persiapan Pasien 

  • 1 hari sebelum pemeriksan, pasien harus makan makanan yang lunak dan tidak berserat
  • malam hari jam 20.30 makan garam inggris atau dulcolax tablet 6 buah
  • makan terakhir jam 22.00
  • saat pasien datang ke unit radiologi, lakukan plain foto (abdomen polos)


7. Metode pemasukan bahan kontras

Metode Saxon Basil Stickland
  • persiapkan alat dan bahan
  • bersihkan bagian yang ingin disuntikan bahan kontras
  • beri marker pada daerah tersebut
  • suntikan media kontras secara perlahan-lahan dan lakukan fluoroscopy
  • ambil foto I , foto II dan seterusnya

8. Proyeksi Pemeriksaan

a. Proyeksi AP
  • Ukuran film 24 x 30 cm
  • Posisi pasien : pasien supine atau prone di atas meja pemeriksaan
  • Posisi Objek : MSP tubuh pasien tepat pada MLT , sentrasi dipusatkan pada kaset setinggi L2
  • Central Ray : Vertikal tegak lurus bidang kaset
  • Central Point : pada L3 atau setinggi umbilicus


b. Proyeksi Lateral
  • Ukuran film 24 x 30 cm
  • Posisi pasien : pasien di posisikan true lateral atau posisi pasien miring menghadap salah satu sisi
  • Posisi Objek : MCP tubuh berada pada MLT, sentrasi dipusatkan pada kaset setinggi L2, Fleksikan genue pasien supaya pasien nyaman dan posisi pasien true lateral, dan letakkan tangan pasien di depan kepala atau bawah kepala.
  • Central Ray : vertikal tegak lurus bidang kaset
  • Centra Point : pada L3 setinggi umbilicus


c. Proyeksi Oblique
  • Ukuran film 24 x 30 cm 
  • Posisi pasien : pasien supine diatas meja pemeriksaan, lalu posisi tubuh pasien di miringkan sebesar 45 derajat ke salah satu sisi (kiri ataupun kanan)
  • Posisi objek : MSP tubuh berada pada MLT, sentrasi dipusatkan pada pertengahan SIAS dan symphisis pubis, salah satu tubuh pasien diposisikan miring sebesar 45 derajat ( kiri ataupun kanan), dan letakkan tangan pasien di depan kepala
  • Central Ray : Vertikal tegak lurus bidang kaset
  • Central Point : pada pertengahan SIAS dan symphisis pubis


9 Hasil gambaran Fistulografi Interna

a. Plain foto yang udah diberikan marker


b. Foto saat pemberian bahan kontras

c. Foto saat kontras masuk dari posisi AP 


d. Foto saat kontras masuk pada posisi lateral


e. Foto yang telah memperlihatkan luas, lokasi dan panjang fistel 




- - Cafe Radiologi - -

Teknik Radiografi Fistulografi Interna

FISTULOGRAFI INTERNA

1. Pengertian 


  • Fistulografi adalah pemeriksaan radiografi untuk menunjukan lokasi, luas, dan panjang dari fistula ( saluran abnormal yang biasanya diantara dua organ.
  • Fistulografi Interna adalah pemeriksaan radiografi untuk menunjukan lokasi, luas, dan panjang dari fistula yang menghubungkan dua organ tubuh bagian dalam

2. Tujuan pemeriksaan

untuk melihat dan menunjukan lokasi, luas, dan panjang dari fistula didalam tubuh

3. Indikasi Pemeriksaan


  • adanya penyakit kronik
  • infeksi anatomi post operasi
  • carcinoma
  • diverticulitis
  • cacat bawaan (kelainan kongenital)


4. Kontra indikasi 


  • infeksi berat pada fistula yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat
  • alergi pada bahan kontras

Teknik Radiografi RPG (Retrograde Pyelography)

RPG 

1. Pengertian RPG (Retrograde Pyelography)

       Teknik atau prosedur atau tata cara pemeriksaan sistem urinaria dengan menggunakan  sinar-X dan memasukkan media kontras secara retrograde (berlawanan dengan alur sistem urinaria) untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan ini dilakukan apabila sistem urinary sudah tidak berfungsi.Media kontras dimasukkan berbalik atau melawan jalannya alur sistem urinaria melalui sistem pelviocaliceal dengan memasang kateter. Pemasangan kateter adalah dengan melakukan bedah minor oleh dokter urology di ruang bedah. Umumnya dilakukan untuk menunjukkan letak urinary calculi atau jenis kerusakan lain.


2. Indikasi Pemeriksaan :

  • Stricture Uretra
  • Batu Uretra
  • Uretris Injuri
  • Renal Pelvic Neoplasma
  • Renal Calculi
  • Ureteric Fistule


3. Kontra indikasi pemeriksaan :

  • Urethritis :
merupakan kontra indikasi absolute karena dapat menyebabkan infeksi pada traktus urinari distal dan proximal. peradangan yang terjadi akan sulit di obati.

  • Stricture Uretra
Merupakan bukan kontra indikasi absolute, namun pemasukan kateter dapat memperparah keadaan




4. Komplikasi yang mungkin terjadi

  • Injuri Uretra
penggunaan Cystoscopy dengan ukuran yang besar dan tidak digunakannya lubricant (jelly) memungkinkan unjuri terjadi

  • Bladder Injuri
bladder injuri ini sangat jarang terjadi. apabila tekanan keras dengan paksaan dilakukan, maka perforasi bladder mungkin terjadi

  • Paraphimosis
mungkin terjadi pada pasien yang tidak di circumsis 

  • Stricture Uretra
tidak digunakannya lubricant (jelly) yang cukup dapat menyebabkan luka dan stricture kemudian

  • Cystitis
jika tidak dilakukan aseptic maka terjadi peradangan




5. Persiapan pasien


    persiapan pasien pada RPG sama hal nya dengan persiapan BNO - IVP , yaitu :





  1. Hasil ureum dan creatinin normal
  2. Satu hari sebelum pemeriksaan, pasien makan makanan yang lunak/rendah serat, misalnya bubur kecap.
  3. 12 jam sebelum pemeriksaan pasien minum obat pencahar.
  4. Selanjutnya pasien puasa sehingga pemeriksaan selesai dilakukan
  5. Selama puasa pasien dinjurkan untuk tidak merokok, dan banyak bicara untuk meminimalisasi udara dalam usus
  6. Sebelum pemeriksaan dimulai pasien buang air kecil untuk mengosongkan blass
  7. Akibat rasa takut pada jarum suntik, perlu diperhatikan :
    1. Penjelasan pada pasien
    2. Dorongan mental dan emosional
  8. Penandatanganan Informed consent.

6. Persiapan Alat dan Bahan




  • Pesawat sinar-X
  • kontras iodium 20 cc
  • Spuit 20 cc
  • Needle 19 G
  • Film dan kaset 24 x 30 dan 30 x 40
  • Grid atau bucky
  • Marker R/L
  • Kateter (dipasang dgn bantuan cystoscopy)
  • Desinfektan
  • Kontras media, urografin

 7. Prosedur Pemeriksaan

Pemasangan kateter dilakukan oleh dokter urology dengan menggunakan bantuan cystoscopy, secara retrograde (berlawan dengan alur sistem urinary) melalui uretra sblm pemeriksaan mulai dilakukan.


a. Lakukan plain foto (Abdomen Polos)
  • untuk memastikan letak kateter ( untuk dokter urologis )
  • untuk mengetahui ketepatan teknik dan positioning ( untuk radiographer )
b. Lakukan injeksi 3-5 cc media kontras melalui kateter menuju renal pelvis pada ginjal yang diperiksa
  • diambil dengan menggunakan film 24 x 30 cm
  • kontras media dimasukan kembali ± 5 cc sambil kateter di tarik perlahan, lalu foto menggunakan film 30 x 40 cm untuk melihat daerah ureter
  • kontras media dimasukan hingga habis, sambil di tarik diperkirakan kontras habis, foto diambil menggunakan film 30 x 40 cm
 
8. Proyeksi RPG (Retrograde Pyelography)

A. Posisi AP

Posisi Pasien : supine di atas meja pemeriksaan

Posisi Objek : 
  • MSP sejajar dengan pertengahan bucky
  • Kedua tangan disamping tubuh
Central Ray : Tegak lurus pada bidang kaset (vertikal)

Central Point : MSP setinggi crista illiaca

FFD : 100 cm

Catatan :
Gambar harus berada pada orientasi ginjal tidak terpotong dan gambaran mulai dari nefron sampai blass tetapi tidak ada waktu seperti IVP.




b. Posisi AP Oblique

Posisi Pasien
: Semisupine

Posisi Obyek
:
• Atur tubuh pasien sehingga membentuk sudut 45° terhadap meja pemeriksaan.
• Tekuk lutut yang jauh dari meja pemeriksaan, luruskan kaki yang dekat dengan meja pemeriksaan, tangan yang dekat dengan meja pemeriksaan gunakan sebagai ganjalan kepala, yang jauh dari meja pemeriksaan diletakkan di depan tubuh.

Central Ray
: Tegak lurus kaset

Central Point
: 2 inci (5 cm) medial dari SIAS dan 1½ inci (3,8 cm) di atas crista illiaca

FFD
: 100 cm


9. Hasil Gambaran RPG

a. Plain foto


b. Fase 1 


c. Fase 2

d. Fase 3


10. Kesimpulan 

Retrograde pyelografi merupakan pemeriksaan radiologi untuk menilai traktus urinarius. Pemeriksaan ini dilakukan jika pemeriksaan sebelumnya mengalami kegagalan atau informasi yang didapat kurang memadai untuk diagnosis.
 Persiapan yang dilakukan untuk pemeriksaan ini mirip seperti pemeriksaan BNO IVP , namun pada tekniknya kontras media dimasukkan melalui kateter yang dipasang di penis. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan dibawah kontrol fluoroskopi , namun apabila pesawat tidak memungkinkan, maka pemeriksaan dapat dilakukan dengan ekspos film yang cukup banyak untuk melihat perjalanan kontras media. 


- - Cafe Radiologi - -

Teknik Radiografi RPG (Retrograde Pyelography)

RPG 

1. Pengertian RPG (Retrograde Pyelography)

       Teknik atau prosedur atau tata cara pemeriksaan sistem urinaria dengan menggunakan  sinar-X dan memasukkan media kontras secara retrograde (berlawanan dengan alur sistem urinaria) untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan ini dilakukan apabila sistem urinary sudah tidak berfungsi.Media kontras dimasukkan berbalik atau melawan jalannya alur sistem urinaria melalui sistem pelviocaliceal dengan memasang kateter. Pemasangan kateter adalah dengan melakukan bedah minor oleh dokter urology di ruang bedah. Umumnya dilakukan untuk menunjukkan letak urinary calculi atau jenis kerusakan lain.


2. Indikasi Pemeriksaan :

  • Stricture Uretra
  • Batu Uretra
  • Uretris Injuri
  • Renal Pelvic Neoplasma
  • Renal Calculi
  • Ureteric Fistule


3. Kontra indikasi pemeriksaan :

  • Urethritis :
merupakan kontra indikasi absolute karena dapat menyebabkan infeksi pada traktus urinari distal dan proximal. peradangan yang terjadi akan sulit di obati.

  • Stricture Uretra
Merupakan bukan kontra indikasi absolute, namun pemasukan kateter dapat memperparah keadaan




4. Komplikasi yang mungkin terjadi

  • Injuri Uretra
penggunaan Cystoscopy dengan ukuran yang besar dan tidak digunakannya lubricant (jelly) memungkinkan unjuri terjadi

  • Bladder Injuri
bladder injuri ini sangat jarang terjadi. apabila tekanan keras dengan paksaan dilakukan, maka perforasi bladder mungkin terjadi

  • Paraphimosis
mungkin terjadi pada pasien yang tidak di circumsis 

  • Stricture Uretra
tidak digunakannya lubricant (jelly) yang cukup dapat menyebabkan luka dan stricture kemudian

  • Cystitis
jika tidak dilakukan aseptic maka terjadi peradangan




5. Persiapan pasien


    persiapan pasien pada RPG sama hal nya dengan persiapan BNO - IVP , yaitu :





  1. Hasil ureum dan creatinin normal
  2. Satu hari sebelum pemeriksaan, pasien makan makanan yang lunak/rendah serat, misalnya bubur kecap.
  3. 12 jam sebelum pemeriksaan pasien minum obat pencahar.
  4. Selanjutnya pasien puasa sehingga pemeriksaan selesai dilakukan
  5. Selama puasa pasien dinjurkan untuk tidak merokok, dan banyak bicara untuk meminimalisasi udara dalam usus
  6. Sebelum pemeriksaan dimulai pasien buang air kecil untuk mengosongkan blass
  7. Akibat rasa takut pada jarum suntik, perlu diperhatikan :
    1. Penjelasan pada pasien
    2. Dorongan mental dan emosional
  8. Penandatanganan Informed consent.

6. Persiapan Alat dan Bahan




  • Pesawat sinar-X
  • kontras iodium 20 cc
  • Spuit 20 cc
  • Needle 19 G
  • Film dan kaset 24 x 30 dan 30 x 40
  • Grid atau bucky
  • Marker R/L
  • Kateter (dipasang dgn bantuan cystoscopy)
  • Desinfektan
  • Kontras media, urografin

 7. Prosedur Pemeriksaan

Pemasangan kateter dilakukan oleh dokter urology dengan menggunakan bantuan cystoscopy, secara retrograde (berlawan dengan alur sistem urinary) melalui uretra sblm pemeriksaan mulai dilakukan.


a. Lakukan plain foto (Abdomen Polos)
  • untuk memastikan letak kateter ( untuk dokter urologis )
  • untuk mengetahui ketepatan teknik dan positioning ( untuk radiographer )
b. Lakukan injeksi 3-5 cc media kontras melalui kateter menuju renal pelvis pada ginjal yang diperiksa
  • diambil dengan menggunakan film 24 x 30 cm
  • kontras media dimasukan kembali ± 5 cc sambil kateter di tarik perlahan, lalu foto menggunakan film 30 x 40 cm untuk melihat daerah ureter
  • kontras media dimasukan hingga habis, sambil di tarik diperkirakan kontras habis, foto diambil menggunakan film 30 x 40 cm
 

back to top